Dana Perang Melawan Ebola di Kongo Mengering, WHO Peringatkan Krisis Kemanusiaan
Baca dalam 60 detik
- WHO baru mengantongi 40% dari dana yang dibutuhkan untuk menangani wabah Ebola di Kongo, dengan 1.926 kasus dan 702 kematian.
- Penyebaran virus ke dua provinsi baru menandai fase kritis, sementara angka sebenarnya diperkirakan dua hingga empat kali lipat dari data resmi.
- Kekurangan dana mengancam upaya deteksi dan isolasi pasien, dengan risiko meluasnya wabah ke negara tetangga seperti Uganda.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hanya memiliki kurang dari setengah dana yang dibutuhkan untuk memerangi wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) timur, saat penyakit itu menyebar ke dua provinsi baru pada pekan ini. Kepala Program Darurat Kesehatan WHO, Chikwe Ihekweazu, mendesak para donor untuk tidak meninggalkan DRC pada fase kritis epidemi, dengan menegaskan bahwa beban ini tidak boleh ditanggung sendiri oleh negara tersebut.
Dalam konferensi pers di Jenewa, Selasa (14/7), Ihekweazu mengungkapkan bahwa WHO baru menerima sekitar 40 persen dari dana yang diajukan sebesar 115 juta dolar AS untuk menangani wabah Bundibugyo—jenis Ebola yang belum memiliki pengobatan atau vaksin yang terbukti efektif. Data pemerintah DRC mencatat sedikitnya 1.926 orang telah terinfeksi dan 702 di antaranya meninggal dunia.
Ihekweazu, yang baru kembali dari kunjungan ke provinsi Ituri—wilayah paling parah terdampak—menggambarkan situasi saat ini sebagai titik kritis. "Ini seperti lari maraton. Anda tidak bisa menyerah setelah putaran pertama atau kedua. Anda harus terus mendorong meskipun lelah dan kehabisan tenaga," ujarnya. Ia menekankan bahwa upaya deteksi dan isolasi pasien harus ditingkatkan secara intensif untuk menahan laju penularan.
Salah satu temuan paling mengkhawatirkan adalah perkiraan WHO bahwa jumlah kasus Ebola yang sebenarnya di Kongo setidaknya dua kali lipat, dan mungkin lebih dari empat kali lipat, dari angka resmi. Artinya, jumlah infeksi aktual bisa mencapai lebih dari 7.700 orang. Kesenjangan ini menunjukkan lemahnya sistem surveilans dan keterbatasan akses ke daerah-daerah terpencil yang menjadi episentrum wabah.
Di tengah kesenjangan pendanaan, Singapura pada hari yang sama mengumumkan kontribusi sebesar 2 juta dolar AS untuk mendukung respons di DRC dan Uganda. Dana tersebut akan dialokasikan untuk pengujian laboratorium, pelacakan kontak, pencegahan infeksi, serta manajemen kasus di lapangan. Namun, jumlah itu masih jauh dari kebutuhan total yang diestimasi WHO.
Bagi Indonesia, wabah Ebola di Afrika tetap menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi penyakit menular. Meskipun risiko penularan langsung ke Indonesia rendah, mobilitas global dan potensi mutasi virus membuat kewaspadaan tetap diperlukan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah memperkuat protokol di pintu masuk negara, terutama bagi pelancong dari wilayah terdampak. Namun, pengalaman pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa investasi dalam sistem deteksi dini dan respons cepat sangat krusial.
Ihekweazu memperingatkan bahwa tanpa suntikan dana segar, upaya pengendalian bisa terhambat. "Wabah ini membutuhkan sumber daya yang sepadan dengan skala tantangan yang kita hadapi. Dan ini bukan beban yang bisa dibiarkan ditanggung DRC sendirian," katanya. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah komunitas internasional bergerak cepat sebelum Ebola menjadi krisis yang tak terkendali?



