Menolak Amputasi Lidah, Drummer Poison Rikki Rockett Rayakan 10 Tahun Bebas Kanker
Baca dalam 60 detik
- Rikki Rockett, drummer band Poison, menolak operasi pengangkatan lidah saat melawan kanker tenggorokan stadium 4 dan memilih imunoterapi eksperimental.
- Setelah menjalani radiasi, kemoterapi, dan imunoterapi, ia berhasil mengalahkan dua jenis kanker—termasuk leukemia yang muncul kemudian—dan dinyatakan bebas kanker selama 10 tahun.
- Kisahnya menjadi inspirasi bagi pasien kanker di Indonesia, terutama yang menghadapi pilihan sulit antara operasi radikal dan terapi alternatif.

Drummer legendaris band Poison, Rikki Rockett, memilih menolak operasi amputasi lidah saat berjuang melawan kanker tenggorokan stadium lanjut—keputusan yang ia gambarkan seperti adegan film horor Evil Dead. Kini, 10 tahun setelah dinyatakan bebas dari dua jenis kanker, ia membagikan pengalaman dramatisnya yang menjadi inspirasi bagi banyak pasien.
Pada 2015, Rockett yang saat itu berusia 54 tahun didiagnosis menderita kanker tenggorokan stadium 3 (squamous cell carcinoma). Ia menjalani tiga bulan perawatan intensif berupa radiasi lima hari seminggu dan kemoterapi mingguan. Efek sampingnya luar biasa: berat badannya turun 30 persen, ia tidak bisa makan makanan padat, tenggorokan sakit 24 jam, dan mengalami luka bakar akibat radiasi. Meski demikian, ia tetap mempertahankan rambutnya kecuali bagian belakang yang terbakar hingga harus dipotong.
Namun, setelah tiga bulan, kanker justru berkembang dari stadium 3 ke stadium 4. Dokter menawarkan operasi pengangkatan lidah sebagai satu-satunya pilihan. Rockett menolak. "Saya keras kepala," tulisnya di Facebook. Ia kemudian menemukan uji klinis imunoterapi—pendekatan baru yang saat itu masih eksperimental. Dalam hitungan minggu, tumor menyusut 90 persen. Bahkan, ia mengaku pernah memuntahkan tumornya saat berhenti di pinggir jalan, seperti adegan dalam film Evil Dead.
Perjuangan Rockett belum selesai. Saat masih menjalani imunoterapi untuk kanker tenggorokan, ia didiagnosis menderita leukemia. Ia kembali menjalani pengobatan dan akhirnya berhasil mengalahkan kedua kanker tersebut. "Saya mengalahkan dua bentuk kanker!" tulisnya. "Ini lebih besar dari apa pun yang pernah saya lakukan bersama Poison. Saya menjadi bagian dari sesuatu yang ajaib."
Bagi pasien kanker di Indonesia, kisah Rockett menyoroti pentingnya akses terhadap terapi inovatif seperti imunoterapi. Meski biaya dan ketersediaan masih terbatas, beberapa rumah sakit di Jakarta dan Surabaya mulai menawarkan imunoterapi untuk kanker kepala dan leher. Keputusan Rockett menolak amputasi lidah juga mengingatkan bahwa pasien perlu mempertimbangkan kualitas hidup jangka panjang, bukan sekadar kesintasan.
Rockett berencana menulis buku tentang pengalamannya, yang ia akui sulit untuk ditulis. Ia menutup unggahannya dengan pesan bagi mereka yang berjuang melawan kanker: "Jaga dirimu, terus berolahraga, bangun dan mandi, serta berpakaian rapi. Temui psikolog. Utamakan dirimu sendiri, baru kau bisa kembali membantu orang lain."
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah semakin banyak pasien kanker di Indonesia yang berani menolak operasi radikal demi terapi yang lebih manusiawi? Ataukah sistem kesehatan kita siap menyediakan akses imunoterapi yang merata?



