Misi Luar Angkasa Rusia-AS Berlanjut: Astronaut NASA dan Dua Kosmonaut Bertolak ke ISS
Baca dalam 60 detik
- Rusia sukses meluncurkan astronaut NASA Anil Menon bersama dua kosmonaut ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dari Kazakhstan, menandai kembalinya penerbangan berawak dari landasan yang baru diperbaiki.
- Kehadiran langsung Administrator NASA Jared Isaacman di lokasi peluncuran untuk pertama kalinya sejak 2018 menunjukkan adanya diplomasi antariksa di tengah ketegangan geopolitik akibat perang Rusia-Ukraina.
- Misi ini menjadi krusial bagi keberlangsungan operasional ISS, mengingat ketergantungan stasiun pada modul Rusia untuk manuver orbit dan potensi keterlibatan Indonesia dalam program antariksa global.

Rusia kembali mengirimkan awak manusia ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada Selasa (14/7) dari Kosmodrom Baikonur, Kazakhstan, dalam sebuah misi yang menandai langkah baru kerja sama antariksa di tengah ketegangan politik global. Peluncuran Soyuz MS-29 ini menjadi momen langka karena dihadiri langsung oleh kepala badan antariksa Amerika Serikat, Jared Isaacman, dan mitranya dari Rusia, Dmitry Bakanov.
Pesawat luar angkasa Soyuz MS-29 membawa astronaut NASA Anil Menon serta kosmonaut Pyotr Dubrov dan Anna Kikina. Mereka lepas landas pukul 10.47 waktu setempat dan mencapai orbit sepuluh menit kemudian, memulai perjalanan sekitar tiga jam menuju laboratorium antariksa seukuran lapangan sepak bola itu. Rencananya, kru ini akan tinggal di ISS selama delapan bulan sebagai bagian dari rotasi awak ke-75 stasiun tersebut.
Yang menarik perhatian adalah kehadiran Jared Isaacman di Baikonur. Ini merupakan kunjungan pertama kepala NASA ke lokasi peluncuran Rusia sejak 2018. Sebelumnya, hubungan antariksa kedua negara sempat renggang akibat sanksi dan ketegangan terkait invasi Rusia ke Ukraina. Pendahulu Isaacman, Bill Nelson, tidak pernah melakukan kunjungan serupa selama masa jabatannya di era Biden. Langkah Isaacman menunjukkan adanya upaya memisahkan kerja sama ilmiah dari politik, setidaknya di ranah antariksa.
Bagi Indonesia, misi ini relevan dalam konteks perkembangan program antariksa nasional. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan satelit dan sumber daya manusia di bidang antariksa. Kerja sama internasional seperti ISS membuka peluang bagi peneliti Indonesia untuk terlibat dalam eksperimen gayaberat mikro, yang bermanfaat untuk pengembangan material, farmasi, dan bioteknologi. Selain itu, stabilitas operasional ISS bergantung pada modul Rusia yang bertanggung jawab atas koreksi orbit. Jika kerja sama Rusia-AS terganggu, hal itu bisa berdampak pada kelangsungan stasiun dan akses negara mitra, termasuk Indonesia yang memiliki perjanjian pemanfaatan ISS.
Menurut analis antariksa dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Purnomo, misi ini menunjukkan bahwa diplomasi antariksa masih bisa berjalan meskipun hubungan bumi sedang tidak harmonis. "ISS adalah satu-satunya laboratorium permanen di orbit rendah bumi. Keberhasilannya bergantung pada kolaborasi teknis yang solid, terlepas dari perbedaan politik," ujarnya. Ia menambahkan bahwa Indonesia perlu memanfaatkan momen ini untuk memperkuat jejaring riset dengan negara-negara pengelola ISS.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah model kerja sama seperti ini bisa bertahan dalam jangka panjang. Dengan rencana pensiun ISS pada 2030 dan munculnya stasiun komersial serta program antariksa Tiongkok, aliansi tradisional mungkin akan bergeser. Namun, untuk saat ini, misi Soyuz MS-29 membuktikan bahwa pintu antariksa masih terbuka lebar bagi kolaborasi lintas batas.



