Argentina vs Inggris: Laga Sepak Bola yang Tak Pernah Lepas dari Politik Malvinas
Baca dalam 60 detik
- Argentina dan Inggris akan bertemu untuk kelima kalinya sejak Perang Falklands 1982, dengan nyanyian 'Malvinas' menjadi bagian dari identitas kultural Argentina.
- Pemerintah Argentina dan Inggris kembali bersitegang soal kedaulatan Kepulauan Falklands, sementara FIFA enggan menindak tegas nyanyian politik di stadion.
- Laga semi-final Piala Dunia ini menyatukan rivalitas sepak bola dan luka sejarah, dengan potensi gesekan yang lebih luas di luar lapangan.

Argentina dan Inggris kembali dipertemukan di panggung Piala Dunia, kali ini di babak semi-final yang digelar di Atlanta, Rabu (21:00 BST). Namun, laga ini bukan sekadar pertarungan menuju final. Di balik lapangan hijau, gema Perang Falklands 1982 masih bergema, dan nyanyian 'Malvinas' menjadi pengingat bahwa sepak bola bagi Argentina adalah cermin identitas bangsa yang tak bisa dipisahkan dari politik.
Sejak konflik 74 hari yang merenggut 907 jiwa—649 tentara Argentina, 255 personel Inggris, dan tiga warga sipil Falklands—hubungan kedua negara di ranah olahraga selalu dibayangi masa lalu. Bagi Argentina, Inggris bukan sekadar lawan tanding, melainkan simbol dari trauma dan kebanggaan yang terus dirawat. Nyanyian seperti "For the Malvinas, for Diego, for Leo's last one" yang dinyanyikan pemain setelah mengalahkan Swiss di perempat final bukanlah sekadar euforia kemenangan, melainkan ritual yang mengakar dalam budaya sepak bola Argentina.
Jurnalis Argentina Nicolas Rotnitzsky menjelaskan bahwa nyanyian tersebut adalah bagian dari pembentukan identitas. "Ini tentang 'kami bukan mereka—kami adalah kami'. Jadi kami melompat untuk membuktikan bahwa kami bukan salah satu dari mereka," ujarnya kepada BBC Sport. Gelandang Argentina Rodrigo de Paul menambahkan bahwa nyanyian itu "sangat tentang pahlawan kami" dan bukan soal politik, meskipun ia mengakui masalah Malvinas perlu dibahas di forum terpisah.
Di sisi lain, Inggris berusaha meredam tensi. Kiper Jordan Pickford menyebut laga ini "hanya sebuah pertandingan sepak bola" dan yakin "sepak bola akan berbicara sendiri". Federasi Veteran Perang 2 April Argentina pun menegaskan bahwa laga ini "bukan pertandingan ulang bersenjata atau kompensasi sejarah". Namun, pernyataan Menteri Luar Negeri Argentina Pablo Quirno yang menyebut penduduk Falklands sebagai "implantasi buatan oleh kekuatan pendudukan" menunjukkan bahwa politik tak bisa dipisahkan.
FIFA sendiri kerap bersikap inkonsisten. Di satu sisi, badan sepak bola dunia itu melarang simbol militer di bendera atau spanduk—seperti yang dialami suporter Inggris yang harus menutupi lambang kapal selam di bendera Barrow AFC. Namun, FIFA jarang menindak nyanyian politik seperti 'Malvinas' yang justru dipromosikan oleh akun resmi Argentina. Kontras dengan UEFA yang lebih tegas: setelah Euro 2024, kapten Spanyol Alvaro Morata dan Rodri dilarang satu pertandingan karena menyanyikan "Gibraltar is Spanish". Gibraltar, seperti Falklands, adalah Wilayah Seberang Laut Inggris.
Bagi Indonesia, rivalitas Argentina-Inggris menawarkan pelajaran tentang bagaimana olahraga bisa menjadi medium ekspresi politik dan identitas. Di tengah euforia Piala Dunia, publik Indonesia bisa menyaksikan bagaimana sejarah kolonial dan perang masih membentuk narasi sepak bola global. Pertanyaan yang muncul: akankah FIFA pada akhirnya menerapkan standar yang sama untuk semua bentuk politisasi di stadion, atau justru membiarkan rivalitas bersejarah ini terus berlanjut tanpa batas?
Laga semi-final nanti bukan hanya soal taktik Messi atau ketangguhan pertahanan Inggris. Ia adalah panggung di mana 44 tahun sejarah, 907 nyawa, dan identitas dua bangsa bertarung kembali—kali ini dengan bola sebagai senjata. Seperti diungkapkan Rotnitzky, "Pada hari Rabu, Anda akan mendengarnya keras. Sangat keras."



