Reflection AI Borong Kapasitas Komputasi Senilai Rp15 Triliun dari Nebius
Baca dalam 60 detik
- Startup AI Reflection meneken kontrak komputasi lebih dari US$1 miliar dengan Nebius untuk mengakses chip Nvidia terbaru.
- Kesepakatan ini menambah daftar panjang perburuan daya komputasi di kalangan startup AI, menyusul kontrak serupa dengan SpaceX senilai US$150 juta per bulan.
- Model open-source yang dikembangkan Reflection kian diminati karena biaya lebih rendah dan risiko ketergantungan pada penyedia tertutup yang bisa tiba-tiba dibatasi.

Startup kecerdasan buatan (AI) asal Amerika Serikat, Reflection, mengumumkan kesepakatan senilai lebih dari US$1 miliar (sekitar Rp15 triliun) dengan penyedia infrastruktur komputasi Nebius. Perjanjian ini mencakup akses terhadap chip Nvidia generasi terbaru yang menjadi rebutan para pemain AI global.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari kontrak serupa yang diteken Reflection pada Juni lalu dengan SpaceX. Dalam kesepakatan tersebut, media melaporkan bahwa startup yang didirikan oleh dua mantan peneliti Google DeepMind itu akan membayar sekitar US$150 juta per bulan hingga 2029. Total komitmen finansial yang digelontorkan Reflection untuk mengamankan pasokan daya komputasi pun kini membengkak hingga miliaran dolar.
Fenomena ini mencerminkan perlombaan sengit di antara startup AI untuk mengunci kapasitas komputasi yang dibutuhkan dalam melatih dan menjalankan model-model mereka. Permintaan dari perusahaan yang mengadopsi teknologi AI tumbuh pesat, jauh melampaui pasokan pusat data baru. Di tengah keterbatasan itu, akses terhadap chip canggih seperti Nvidia H100 atau B200 menjadi faktor penentu dalam persaingan.
Reflection sendiri mengembangkan model-model AI sumber terbuka (open-source) yang dirancang sebagai alternatif bagi produk buatan OpenAI dan Anthropic. Model open-source umumnya lebih mudah dikustomisasi dan lebih murah dioperasikan dibandingkan model tertutup (closed-weight) milik pesaing. Ketertarikan terhadap model-model ini meningkat seiring membengkaknya tagihan AI yang mendorong perusahaan untuk menekan biaya.
Pembatasan yang diberlakukan pemerintah AS terhadap model-model canggih Anthropic pada Juni lalu turut menyadarkan pasar akan risiko mengandalkan penyedia yang bisa sewaktu-waktu dihentikan aksesnya. “Kebutuhan akan model terbuka sudah jelas, dan kapasitas komputasi tambahan ini akan memungkinkan Reflection terus membangun dan melatih model AI kelas atas dalam skala besar,” ujar Ioannis Antonoglou, Chief Technology Officer sekaligus salah satu pendiri Reflection.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membawa implikasi penting. Ekosistem AI nasional yang masih didominasi penggunaan model tertutup buatan raksasa global perlu mulai melirik alternatif open-source. Dengan biaya yang lebih terjangkau dan fleksibilitas tinggi, model-model seperti yang dikembangkan Reflection bisa menjadi solusi bagi perusahaan rintisan dan institusi riset di Tanah Air yang ingin mengembangkan AI tanpa harus bergantung pada penyedia asing. Namun, tantangan infrastruktur komputasi dalam negeri yang terbatas masih menjadi kendala utama.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah model open-source akan menjadi arus utama, melainkan seberapa cepat ekosistem pendukungnya—termasuk pusat data dan akses chip—dapat dibangun di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Jika tidak, kesenjangan akses terhadap daya komputasi justru akan semakin melebar.



