Dari Divisi Bawah ke Panggung Piala Dunia: Kisah Anthony Barry, Tangan Kanan Tuchel
Baca dalam 60 detik
- Anthony Barry, mantan pemain Accrington Stanley, kini menjadi asisten Thomas Tuchel di timnas Inggris yang bersiap menghadapi Argentina di semifinal Piala Dunia 2026.
- Karier kepelatihan Barry meroket berkat keahlian set-piece dan hubungan harmonis dengan Tuchel, yang disebutnya sebagai 'yin dan yang'.
- Barry dan Tuchel hanya punya 50 hari latihan bersama pemain sebelum turnamen, sehingga mereka mengutamakan semangat tim dan chemistry sebagai kunci sukses.

Anthony Barry, yang 11 tahun lalu masih menjadi pemain di kasta keempat Liga Inggris bersama Accrington Stanley, kini duduk di bangku cadangan sebagai asisten pelatih timnas Inggris saat mereka bersiap menghadapi Argentina di semifinal Piala Dunia 2026. Perjalanan pria 40 tahun ini dari divisi bawah ke panggung terbesar sepak bola dunia adalah salah satu kisah kebangkitan paling fenomenal dalam olahraga ini.
Barry, yang lahir di Liverpool, menggambarkan dirinya sebagai "yin" bagi "yang" Thomas Tuchel. Meski perawakan mereka berbeda—Tuchel lebih tinggi sekitar 20 cm—keduanya membangun sinergi yang solid. "Dinamika kami saat ini adalah saling mendorong, dan dari dorongan itu kami mendorong tim," ujar Barry dalam wawancara dengan BBC Sport. Ia menegaskan bahwa Tuchel tetap menjadi bos, namun peran mereka saling melengkapi.
Karier kepelatihan Barry dimulai setelah ia pensiun sebagai pemain dan menjadi asisten manajer di Wigan Athletic. Terobosan besar terjadi saat ia mengesankan Frank Lampard dalam kursus Lisensi Pro UEFA, yang membawanya menjadi pelatih tim utama Chelsea pada 2020. Ketika Tuchel menggantikan Lampard pada Januari 2021, Barry justru dipertahankan dan dalam hitungan bulan Chelsea merebut gelar Liga Champions. Ia kemudian mengikuti Tuchel ke Bayern Munich pada 2023, sebelum akhirnya bergabung dengan timnas Inggris pada awal 2025.
Selain di level klub, Barry juga mengumpulkan pengalaman internasional bersama Republik Irlandia, Belgia, dan Portugal, bekerja dengan megabintang seperti Cristiano Ronaldo dan Kevin De Bruyne. Keahliannya dalam set-piece, termasuk analisis 17.000 lemparan ke dalam untuk disertasi Lisensi Pro, menjadi nilai tambah yang diandalkan Tuchel.
Tuchel dikenal ingin membawa nuansa klub ke tim nasional, dan Barry sepenuhnya mendukung pendekatan itu. "Bensin dalam mobil adalah semangat tim," kata Barry kepada BBC Sport pada April lalu. Ia menekankan bahwa dengan waktu latihan yang terbatas—hanya 50 hari sebelum turnamen—membangun ikatan dan persaudaraan menjadi prioritas utama. Pertandingan melawan Meksiko di Stadion Azteca, di mana Inggris menang meski tertinggal lebih dulu, menjadi bukti bahwa semangat tim sedang berada di puncak.
Jadwal padat dan suhu tinggi di Amerika Serikat menjadi tantangan tersendiri. Namun Barry menegaskan tim sudah siap. "Kami tahu setiap jam di antara pertandingan harus dimanfaatkan untuk istirahat, latihan, atau makan yang tepat. Ini tantangan yang sama untuk semua 48 tim," ujarnya. Untuk persiapan, Barry dan Tuchel bahkan terbang ke AS musim panas lalu untuk meninjau basis latihan, fasilitas, dan bagaimana bola bergerak di rumput.
Bagi Indonesia, kisah Barry menginspirasi bahwa jalan menuju puncak tidak selalu linier. Di tengah gencarnya pengembangan sepak bola nasional, cerita seperti ini menunjukkan pentingnya pendidikan kepelatihan yang berkualitas dan keberanian mengambil kesempatan di luar zona nyaman. Keahlian spesifik seperti analisis set-piece juga bisa menjadi pelajaran bagi pelatih Indonesia untuk lebih inovatif.
Barry sadar bahwa ia dan Tuchel akan dinilai dari hasil akhir. "Kami telah bermimpi selama 18 bulan. Tapi mimpi hanyalah mimpi tanpa kerja keras," katanya. Dengan semifinal melawan Argentina di depan mata, mampukah duet "yin dan yang" ini mengantarkan Inggris ke final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1966?



