Bursa Tokyo Berhasil Balik ke Zona Hijau: Saham Teknologi Jadi Penyelamat di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Indeks Nikkei dan Topix ditutup menguat setelah sempat tertekan kekhawatiran konflik AS-Iran, didorong aksi beli saham teknologi yang sebelumnya turun.
- Ketidakpastian pasokan minyak akibat blokade Selat Hormuz membuat investor waspada, namun optimisme gencatan senjata 60 hari membatasi aksi defensif.
- Penguatan yen dan fluktuasi harga minyak menjadi sinyal risiko bagi pasar Asia, termasuk Indonesia, yang bergantung pada stabilitas energi global.

Bursa Tokyo berhasil membalikkan keadaan pada akhir perdagangan Selasa, ditutup di zona hijau setelah sempat terperosok hampir 1.000 poin. Aksi borong saham teknologi berkapitalisasi besar menjadi katalis utama, meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih membayangi sentimen investor.
Indeks Nikkei 225 melesat 500,77 poin (0,74 persen) ke level 67.743,50, sementara indeks Topix yang lebih luas naik 31,49 poin (0,79 persen) ke 4.038,98. Sektor pertambangan, pelayaran, dan kimia memimpin penguatan di papan utama Prime Market. Pergerakan ini terjadi di tengah kekhawatiran akan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah Presiden Donald Trump mengumumkan akan kembali memberlakukan blokade lalu lintas maritim ke dan dari pelabuhan serta wilayah pesisir Iran.
Dolar AS tetap kokoh di kisaran 162 yen rendah di pasar Tokyo, mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi. Para dealer menilai pernyataan Trump meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sepertiga minyak dunia. Harga minyak mentah pun berfluktuasi, memicu aksi jual awal pada saham-saham terkait energi dan logistik.
Namun, pasar tidak sepenuhnya pesimistis. Masahiro Ichikawa, kepala strategi pasar di Sumitomo Mitsui DS Asset Management, menilai bahwa selama serangan masih terbatas dan negosiasi gencatan senjata 60 hari terus berlanjut, tidak ada alasan bagi investor untuk bersikap terlalu defensif. "Prospek Timur Tengah memang tidak menguntungkan, dengan ketidakpastian yang masih ada dan harga minyak yang lebih tinggi membuat investor berada dalam situasi yang tidak bisa diprediksi," ujarnya. Meski demikian, ia menambahkan bahwa kesepakatan gencatan senjata memberikan sedikit ruang bagi pasar untuk bernapas.
Fenomena bargain-hunting menjadi pendorong utama pemulihan. Saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) yang sempat anjlok mengikuti pelemahan Wall Street sehari sebelumnya, justru menarik minat beli setelah mengalami penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Pola ini mengindikasikan bahwa investor masih melihat valuasi menarik di sektor teknologi, meskipun risiko geopolitik belum mereda.
Bagi Indonesia, pergerakan bursa Tokyo memiliki implikasi langsung. Sebagai mitra dagang utama dan sesama negara Asia, gejolak di Jepang kerap mempengaruhi arus modal asing ke pasar emerging market, termasuk Indonesia. Kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Selat Hormuz juga berpotensi menekan anggaran subsidi energi dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Di sisi lain, penguatan yen dapat mendorong investor Jepang untuk mencari imbal hasil lebih tinggi di pasar obligasi Indonesia, meskipun risiko nilai tukar tetap menjadi perhatian.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan negosiasi gencatan senjata AS-Iran dan data ekonomi AS, termasuk inflasi dan klaim pengangguran. Pertanyaan yang mengemuka: akankah aksi beli saham teknologi berlanjut, atau justru kekhawatiran pasokan minyak kembali mendominasi? Jawabannya akan menentukan arah bursa Tokyo dalam pekan-pekan mendatang.



