Warisan Kayu Kakek, Pelukis Muda Jepang Gelar Pameran Bertema Sirkulasi
Baca dalam 60 detik
- Kento Takeda, 28 tahun, memanfaatkan kayu sisa milik kakeknya yang seorang tukang kayu untuk melukis dengan teknik tusuk gigi dan cat alkyd resin.
- Pameran tunggalnya di Fukuoka menampilkan 50 karya, menekankan konsep sirkulasi dan nilai estetika tiga dimensi dari tekstur kayu.
- Setelah kayu warisan habis dalam lima tahun, Takeda berencana mengumpulkan material bangunan bekas untuk melanjutkan karyanya.

Pelukis kayu asal Jepang, Kento Takeda (28), menggelar pameran tunggal di Aula Umum Kyu Fukuoka-ken Kokaido Kihinkan, Fukuoka, hingga 20 Juli 2026. Ia mengusung tema sirkulasi sejak tahun lalu, mengajak pengunjung merasakan kedalaman tiga dimensi yang tercipta dari perpaduan tekstur kayu dan warna seratnya.
Kisah Takeda bermula dari kepergian kakeknya, Yoshiharu Abe, seorang tukang kayu yang wafat pada 2017 di usia 82 tahun. Di rumah Abe di Distrik Higashi, Fukuoka, masih tersimpan banyak kayu sisa yang tak terpakai. Perasaan samar untuk melakukan sesuatu dengan kayu itu mulai tumbuh dalam diri Takeda. Sejak kecil ia gemar menggambar, dan pada usia 24 tahun ia belajar otodidak melukis cat minyak dan akrilik. Semakin sering melukis, ia semakin merenungkan bagaimana benda-benda yang tak lagi terpakai bisa hidup kembali dalam wujud lain.
Teknik melukis Takeda unik: ia menggunakan tusuk gigi sebagai kuas dan cat alkyd resin, yang menggabungkan sifat cat minyak dan akrilik. "Alkyd resin cocok dengan permukaan kayu yang tidak rata, dan tusuk gigi memungkinkan ekspresi yang halus," ujarnya. Karya-karyanya menampilkan bunga dan pemandangan Fukuoka, dengan total sekitar 50 lukisan dipamerkan.
Sejak masa kuliah, Takeda telah mengunjungi sekitar 150 museum seni di dalam dan luar negeri, termasuk Louvre di Paris dan British Museum di London. "Pengalaman melihat seni kelas atas sangat besar pengaruhnya," katanya. Ia sadar ingin menangkap esensi dari subjek yang dilukisnya. Setelah sempat bekerja di perusahaan, sejak Desember 2025 ia aktif sebagai pelukis kayu dan berkarya di Taman Ohori, Distrik Chuo, tempat yang merangsang kelima indranya.
Bagi Indonesia, kisah Takeda relevan dengan tren daur ulang material dan seni ramah lingkungan yang mulai digandrungi anak muda. Di tengah maraknya limbah kayu dari industri konstruksi, pendekatan Takeda bisa menjadi inspirasi bagi perajin dan seniman lokal untuk mengubah sisa material menjadi karya bernilai tinggi. Konsep sirkulasi yang ia usung juga sejalan dengan gerakan ekonomi sirkular yang didorong pemerintah Indonesia.
Setelah kayu warisan kakeknya habis, Takeda berencana mengumpulkan material bangunan dan potongan kayu bekas untuk melanjutkan karyanya. "Saya akan terus memanfaatkan kayu yang telah selesai menjalankan perannya dan meningkatkan kesempatan bagi banyak orang untuk bersentuhan dengan seni," tuturnya. Pertanyaannya, akankah model seni daur ulang seperti ini mampu bertahan secara komersial dan mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah?



