Api Melahap Panggung, Dua Personel Band Tewas dalam Kebakaran Bar di Bangkok
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran di bar Rong Beer Na Lat Phrao, Bangkok, menewaskan sedikitnya 30 orang, termasuk dua personel band Tosakan.
- Vokalis band, Athipat 'Ice' Wijarn, selamat dengan luka di kepala, namun kekasihnya yang juga personel band, Breeze, tewas dalam insiden tersebut.
- Peristiwa ini menyoroti lemahnya standar keselamatan kebakaran di tempat hiburan malam Asia Tenggara, yang kerap mengabaikan sistem proteksi kebakaran.

Sedikitnya 30 orang tewas dalam kebakaran yang melalap sebuah bar dan restoran di kawasan Lat Phrao, Bangkok, Minggu (12/7) malam. Dua di antaranya merupakan personel band pengisi acara, memicu duka mendalam di kalangan musisi Thailand.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 23.00 waktu setempat di Rong Beer Na Lat Phrao, tempat yang dikenal sebagai lokasi pertunjukan musik live. Menurut laporan Bangkok Post, api dengan cepat menyebar dari panggung ke seluruh ruangan, menyebabkan kepanikan massal. Sekitar 70 orang lainnya mengalami luka bakar, keracunan asap, dan cedera lainnya.
Band Tosakan, grup musik beranggotakan 11 orang yang membawakan lagu-lagu Thai dan internasional, sedang tampil saat api pertama kali terlihat. Keyboardis mereka, Kwang, dan vokalis perempuan, Breeze, tewas dalam kejadian itu. Dua personel lain mengalami luka-luka, termasuk drummer yang berada dalam kondisi kritis.
Vokalis sekaligus pimpinan band, Athipat "Ice" Wijarn, menuturkan pengalaman traumatisnya. "Keyboardis kami melihat asap lebih dulu dan berteriak agar saya lari. Saat saya sadar ada api, saya mencium bau asap... Saya berteriak memanggil pacar saya (Breeze), tapi listrik padam," ujarnya dalam sebuah wawancara. Dalam kegelapan total dan ruangan dipenuhi asap tebal, Ice tidak dapat menemukan Breeze. Ia baru berhasil keluar sesaat sebelum ledakan terjadi. Ketika jasad Breeze ditemukan, Ice berusaha memberikan napas buatan, tetapi sudah terlambat.
Ice mengaku menyesal tidak segera memerintahkan pengunjung untuk mengungsi. "Saya masih merasa bereaksi terlalu lambat. Seharusnya saya berteriak memperingatkan semua orang, tapi semuanya terjadi begitu cepat dan kacau," katanya. Ia mengira pemadaman listrik hanya gangguan biasa, karena venue memang sering mengalami masalah kelistrikan.
Bassis Anan "Tor" Prasert, 37, yang mengalami luka bakar ringan, mengaku sempat mengira asap yang muncul adalah asap panggung. "Lalu asap mulai keluar dari langit-langit. Saya bilang ke gitaris di sebelah saya untuk lari. Saat itu saya tidak memikirkan apa pun selain mencabut kabel dan berlari," ujarnya. Ia berhasil keluar dengan gitar bas masih tersampir di pundak.
Kebakaran ini kembali mengingatkan pada tragedi serupa di kawasan hiburan malam Asia Tenggara. Di Indonesia, peristiwa kebakaran di tempat hiburan seperti diskotek dan bar kerap terjadi akibat lemahnya pengawasan dan kepatuhan terhadap standar keselamatan. Minimnya sistem sprinkler, pintu darurat yang terkunci, dan kurangnya sosialisasi evakuasi menjadi celah yang sering diabaikan. Bagi para pelaku industri musik dan pengelola tempat hiburan di Indonesia, tragedi Bangkok ini menjadi alarm untuk segera mengevaluasi prosedur keselamatan. Otoritas setempat pun diharapkan lebih ketat dalam melakukan inspeksi dan penegakan regulasi.
Hingga Senin (13/7) malam, satu personel Tosakan lainnya, vokalis Din, sempat dilaporkan hilang namun akhirnya ditemukan. Kondisinya masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Sementara itu, penyelidikan penyebab kebakaran masih berlangsung. Pertanyaan besar yang tersisa: apakah tragedi ini akan mendorong perubahan nyata dalam standar keselamatan tempat hiburan di Thailand dan negara tetangga, atau hanya akan menjadi catatan duka yang kembali terulang?



