Amorim Mulai Eksperimen: Chukwueze Dimainkan sebagai Bek Sayap Ala Diallo
Baca dalam 60 detik
- Pelatih anyar AC Milan, Ruben Amorim, langsung melakukan eksperimen taktik dengan menempatkan Samuel Chukwueze di posisi bek sayap kanan, bukan sebagai winger seperti biasanya.
- Langkah ini meniru pola yang pernah diterapkan Amorim saat menangani Amad Diallo di Manchester United, menunjukkan fleksibilitas pemain sayap dalam formasi 3-4-2-1.
- Keputusan tersebut menjadi sorotan karena Chukwueze baru kembali dari masa pinjaman di Fulham dan diharapkan bisa beradaptasi dengan peran baru yang lebih defensif.

AC Milan memulai sesi latihan perdana pramusim di bawah arahan pelatih baru Ruben Amorim dengan kejutan taktis: Samuel Chukwueze, yang dikenal sebagai winger kanan, justru ditempatkan sebagai bek sayap kanan dalam formasi 3-4-2-1. Langkah ini mengingatkan pada cara Amorim memanfaatkan Amad Diallo di Manchester United musim lalu.
Latihan yang digelar di Milanello itu juga dihadiri langsung oleh pemilik klub, Gerry Cardinale, yang datang dengan helikopter. Para suporter yang hadir menyaksikan pertandingan internal untuk pertama kalinya melihat skema permainan Amorim. Sejak awal, formasi 3-4-2-1 memang sudah diprediksi, namun penempatan Chukwueze di lini tengah yang lebih dalam menjadi kejutan terbesar.
Chukwueze, yang baru kembali setelah dipinjamkan ke Fulham musim lalu, biasanya beroperasi sebagai winger kanan murni. Di Fulham, ia mencatatkan tiga gol dan empat assist dalam 25 pertandingan. Namun, Amorim tampaknya melihat potensi lain dalam diri pemain Nigeria itu. Peran baru ini membutuhkan kemampuan bertahan yang lebih baik, namun juga memberi kebebasan untuk maju membantu serangan.
Keputusan Amorim ini tidak sepenuhnya mengejutkan. Saat menangani Manchester United, ia pernah menempatkan Amad Diallo di posisi serupa. Diallo, yang juga seorang winger, diminta bermain lebih ke dalam dan berhasil menunjukkan performa menjanjikan. Amorim tampaknya ingin mengulang kesuksesan tersebut dengan Chukwueze, yang memiliki profil fisik dan teknis yang mirip.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, eksperimen ini menarik untuk diikuti. Liga Italia selalu menjadi salah satu liga yang paling banyak ditonton di Tanah Air. Jika Chukwueze berhasil beradaptasi, ia bisa menjadi contoh bagaimana pemain sayap bisa bertransformasi menjadi pemain serba bisa. Ini juga menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang kerap kesulitan memaksimalkan potensi pemain sayap.
Namun, masih terlalu dini untuk menilai efektivitas peran baru ini. Pertandingan pramusim berikutnya akan menjadi ujian nyata bagi Chukwueze. Apakah ia mampu mempertahankan konsistensi di posisi anyar? Ataukah Amorim akan kembali memainkannya sebagai winger jika eksperimen ini gagal? Yang jelas, langkah berani pelatih asal Portugal ini patut diapresiasi.



