Petani Jepang Cemas Harga Beras Anjlok: Dari Krisis Langka ke Melimpah
Baca dalam 60 detik
- Setelah krisis kelangkaan beras pada 2024-2025 yang memicu harga melonjak, Jepang kini menghadapi surplus beras yang menekan harga beli petani.
- Stok beras swasta di Prefektur Iwate mencapai 120.000 ton pada Maret 2026, hampir dua kali lipat tahun sebelumnya, akibat panen melimpah dan konsumsi menurun.
- Petani khawatir harga beli yang turun drastis tidak mampu menutup biaya produksi yang terus naik, mendorong seruan untuk subsidi peralatan pertanian.

Hanya dalam waktu dua tahun, Jepang beralih dari krisis kelangkaan beras yang memicu kepanikan dan lonjakan harga menjadi kelebihan pasokan yang justru mengancam keberlangsungan usaha para petani. Fenomena yang dijuluki "Reiwa-era rice upheaval" ini memasuki babak baru: harga beli beras anjlok, sementara biaya produksi terus meroket.
Krisis kelangkaan yang dimulai pada musim panas 2024 dipicu oleh kombinasi faktor: lonjakan konsumsi dari wisatawan asing, aksi borong menyusul peringatan gempa Nankai Trough pada Agustus 2024, serta gagal panen akibat gelombang panas pada 2023. Pada puncaknya, Januari 2025, harga eceran beras rata-rata menembus 4.400 yen (sekitar Rp460.000) per 5 kilogram. Namun, situasi berbalik drastis setelah panen 2025 melimpah dan permintaan domestik menurun.
Makoto Morioka (74), pengelola korporasi pertanian di Oshu, Prefektur Iwate, menuturkan bahwa harga beli koperasi pertanian setempat sempat melonjak hingga 31.000 yen (sekitar Rp3,2 juta) per 60 kilogram beras cokelat. Namun pada Maret 2026, stok swasta di prefektur itu membengkak menjadi sekitar 120.000 tonโhampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Akibatnya, harga beli mulai tertekan. Sebelum gejolak, harga beli koperasi berkisar di angka 10.000 yen per 60 kilogram. Kini, meskipun harga masih di atas level tersebut, Morioka mengingatkan bahwa kenaikan biaya pupuk, pestisida, dan mesin pertanian telah melampaui inflasi. "Bahkan 20.000 yen sekarang berarti rugi," ujarnya.
Katsuhiro Hosokawa (62), petani keluarga di Shiwa, Iwate, menyuarakan kekhawatiran serupa. "Jika harga beli berfluktuasi tajam, kami tidak bisa membuat rencana," katanya. Ia menambahkan bahwa banyak petani memilih pensiun begitu mesin pertanian mereka rusak. Hosokawa mendesak pemerintah untuk menghidupkan kembali subsidi penggantian mesin dan peralatan pertanian.
Daisuke Komaeda, peneliti senior di NLI Research Institute yang mengkhususkan diri pada kebijakan pertanian dan perikanan, memperkirakan harga eceran beras bisa turun ke kisaran 3.000 yen rendah per 5 kilogram saat musim panen baru mendekat. Ia menilai patokan wajar harga beli petani adalah 20.000โ25.000 yen per 60 kilogram beras cokelat. "Pada level itu, tidak semua petani bisa memperoleh keuntungan yang cukup, dan kekhawatiran tentang keberlanjutan pertanian kemungkinan akan terus berlanjut," ujarnya.
Bagi Indonesia, dinamika harga beras Jepang ini menjadi pengingat pentingnya stabilitas pasokan dan kebijakan perlindungan petani. Indonesia sendiri kerap menghadapi fluktuasi harga beras akibat cuaca ekstrem dan perubahan permintaan. Pengalaman Jepang menunjukkan bahwa intervensi pemerintah, seperti subsidi input pertanian dan pengelolaan stok, sangat krusial untuk mencegah petani terjebak dalam siklus untung-rugi yang tidak menentu. Jika tidak, risiko petani meninggalkan sektor pertanian bisa meningkat, mengancam ketahanan pangan nasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemerintah Jepang akan merespons dengan kebijakan baru atau membiarkan mekanisme pasar berjalan. Sementara itu, petani hanya bisa berharap harga tidak jatuh lebih dalam saat panen September tiba.



