Houthi Tuding Saudi Serang Bandara Sanaa, Gencatan Senjata di Yaman Terancam
Baca dalam 60 detik
- Kelompok Houthi menuduh Arab Saudi melancarkan serangan udara ke Bandara Internasional Sanaa, melanggar gencatan senjata yang rapuh.
- Serangan ini memicu penutupan sementara seluruh bandara di Yaman dan meningkatkan ketegangan antara Riyadh dan kelompok yang didukung Iran.
- Insiden ini berpotensi menggagalkan upaya perdamaian regional dan memperluas dampak konflik ke negara-negara Teluk lainnya.

Ketegangan di Yaman kembali memanas setelah kelompok Houthi yang menguasai wilayah utara menuduh Arab Saudi melancarkan serangan udara terhadap Bandara Internasional Sanaa pada Senin (13/7). Serangan ini langsung dibalas dengan ancaman retaliasi dari Houthi, menguji kembali gencatan senjata yang telah bertahan sejak 2022 di tengah konflik berkepanjangan antara koalisi pimpinan Saudi dan kelompok yang beraliansi dengan Iran tersebut.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyebut serangan itu sebagai "agresi terang-terangan" yang mengakhiri periode de-eskalasi. Ia menegaskan bahwa Arab Saudi akan menanggung konsekuensi dan serangan ini tidak akan dibiarkan begitu saja. Hingga berita ini diturunkan, kantor komunikasi pemerintah Saudi belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, yang bermarkas di Aden dan didukung penuh oleh Saudi serta negara-negara Teluk lainnya, langsung bereaksi dengan memerintahkan penutupan seluruh bandara di Yaman. Namun, beberapa jam kemudian otoritas penerbangan umum mengumumkan bahwa bandara-bandara tersebut telah dibuka kembali. Kementerian Pertahanan pemerintah Yaman sebelumnya menyatakan bahwa landasan pacu Bandara Sanaa sengaja ditargetkan untuk mencegah pendaratan pesawat asal Iran. Seorang juru bicara angkatan bersenjata kemudian mengklaim bahwa pesawat tersebut telah mendarat di Bandara Hodeidah yang dikuasai Houthi, sekitar 150 kilometer barat daya Sanaa.
Insiden ini tidak hanya mengancam gencatan senjata yang rapuh, tetapi juga berpotensi menggagalkan upaya yang lebih luas untuk meredakan ketegangan di kawasan yang terkait dengan konflik Iran. Houthi yang didukung Tehran selama ini menjadi aktor kunci dalam perang proksi di Yaman. Arab Saudi, yang relatif terisolasi dari konflik langsung dengan Iran, kini menghadapi risiko serangan balasan yang dapat menyeretnya lebih dalam ke pusaran ketegangan regional. Kembalinya konflik terbuka antara Houthi dan Saudi dapat mengubah peta keamanan di Semenanjung Arab.
Yaman telah dilanda perang saudara dan perang proksi selama lebih dari satu dekade sejak Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Intervensi koalisi pimpinan Saudi pada 2015 memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Meskipun gencatan senjata 2022 sebagian besar bertahan, kekerasan kembali meningkat pada akhir tahun lalu setelah gerakan separatis yang didukung Uni Emirat Arab menguasai wilayah selatan, memecah belah koalisi anti-Houthi. Ketegangan juga meningkat akibat perang Israel-Gaza yang mendorong Houthi menyerang pelayaran di Laut Merah.
Menteri Penerangan pemerintah Yaman, Moammar bin Mutahar Al-Eryan, menuduh Houthi menahan sebuah pesawat milik Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Bandara Sanaa beserta pilot dan kopilotnya. Juru bicara ICRC untuk Timur Tengah, Hachem Osseiran, membenarkan bahwa seluruh staf dan kru pesawat dalam keadaan aman, namun menolak memberikan komentar lebih lanjut. Belum jelas apakah insiden ini terkait langsung dengan serangan udara yang dilaporkan sebelumnya.
Ketegangan antara Houthi dan pemerintah yang diakui internasional juga meningkat setelah kesepakatan pertukaran tahanan yang dimediasi ICRC gagal beberapa hari lalu. Menteri Pertahanan pemerintah Yaman sebelumnya menyatakan bahwa upaya diplomatik untuk membujuk Iran dan Houthi menghentikan pelanggaran wilayah udara Yaman telah habis. Ia memperingatkan bahwa pasukan pemerintah akan merespons setiap pesawat musuh yang melanggar wilayah udara Yaman dengan segala cara yang tersedia, dan menahan Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik di Yaman menjadi perhatian serius mengingat posisi strategis Yaman di jalur pelayaran Laut Merah yang merupakan jalur vital perdagangan dan energi. Gangguan keamanan di kawasan ini berpotensi mempengaruhi harga minyak dan stabilitas pasokan komoditas. Selain itu, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia juga berkepentingan terhadap perdamaian di Timur Tengah. Pertanyaan besarnya, akankah gencatan senjata yang rapuh ini mampu bertahan, atau justru menjadi awal dari babak baru konflik yang lebih luas?



