Komika Singapura Sharul Channa Lapor Polisi Usai Dihina Rasis di Klub Komedi
Baca dalam 60 detik
- Sharul Channa memanggil polisi setelah seorang pria kulit putih melontarkan hinaan bernada rasis dan mengajaknya berkelahi di sebuah klub komedi Singapura.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang batas humor dan toleransi rasial di negara multikultural, dengan Sharul menegaskan bahwa rasisme tidak boleh dibiarkan.
- Kasus ini menjadi pengingat bagi industri komedi Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk menjaga etika tanpa mengorbankan kebebasan berekspresi.

Seorang komika Singapura, Sharul Channa, terpaksa menghubungi aparat kepolisian setelah seorang pengunjung klub komedi di Singapura melontarkan komentar rasis dan bertindak agresif terhadapnya pada 11 Juli lalu. Insiden yang terjadi saat ia bersiap tampil ini menjadi sorotan publik dan memicu diskusi tentang toleransi di masyarakat majemuk.
Dalam unggahan media sosial, Sharul menceritakan bahwa saat itu seorang komika lain—yang ia sebut sebagai pria keturunan India Singapura—bertanya kepada penonton, "Ada orang India di sini?" Seorang pria di barisan belakang menjawab "Tidak ada India" sambil tertawa, lalu mengulangi kalimat itu dan berteriak "Achar"—merujuk pada acar khas Asia Selatan—dengan nada menghina. Sharul, yang berada di belakang ruangan, spontan berseru, "Tidak ada India, tapi ada satu rasis."
Pria yang disebut Sharul sebagai "tampaknya berkulit putih" dan "sedang minum bir" itu langsung terpancing. Ia mendekati Sharul sambil memegang gelas bir dan berulang kali menantangnya untuk keluar ruangan. Suami Sharul, komika Rishi Budhrani, berusaha menenangkan situasi, namun pria itu tetap ngotot. Melihat eskalasi yang berbahaya, Sharul memutuskan menelepon polisi. "Seorang pria mabuk dengan gelas bir yang ingin mengajak seorang wanita bicara di luar adalah resep bencana," ujarnya kepada The Straits Times.
Polisi yang tiba di lokasi bertindak profesional dengan memeriksa semua pihak secara terpisah. Hasilnya, pemilik klub sepakat melarang pria tersebut masuk kembali. Sharul menegaskan bahwa rasisme tidak boleh ditoleransi, terutama di Singapura yang dikenal sebagai masyarakat multikultural. "Diam hanya membuat prasangka semakin nyaman. Bersuara mungkin tidak nyaman, tetapi sering kali perlu," tulisnya.
Menariknya, Sharul memilih tidak menyebut nama klub demi melindungi bisnis pemilik yang menurutnya sudah bekerja keras. "Sangat sulit memiliki klub komedi penuh waktu di Singapura karena biaya operasional yang tinggi, dan seluruh komunitas komedi sangat mendukung klub ini," jelasnya. Sikap ini menunjukkan solidaritas di antara pelaku seni komedi yang rentan terhadap kontroversi.
Bagi Indonesia, kasus ini relevan mengingat industri komedi Tanah Air juga kerap dihadapkan pada isu SARA. Beberapa tahun terakhir, sejumlah komika Indonesia mendapat kecaman karena materi yang dianggap menyinggung suku, agama, atau ras. Peristiwa di Singapura ini menjadi pengingat bahwa batas antara humor dan hinaan sering kali tipis, dan respons tegas seperti yang dilakukan Sharul bisa menjadi preseden positif. Namun, kebebasan berekspresi tetap harus dijaga tanpa mengorbankan rasa hormat antarkelompok.
Sharul mengaku tidak terpengaruh secara emosional oleh kejadian tersebut. Ia bahkan menolak disebut trauma. "Saya hanya merasa ini perlu diungkap ke publik. Kita tidak boleh memberi preseden buruk bagi budaya komedi di Singapura," katanya. Ke depannya, ia akan memastikan manajer wanitanya yang memiliki latihan bela diri selalu mendampingi. Pertanyaan yang muncul: apakah insiden serupa akan membuat klub komedi di Asia Tenggara lebih ketat dalam menyaring penonton, atau justru memperkuat resistensi terhadap sensor?



