VAR di Piala Dunia: Teknologi Canggih yang Justru Memicu Kontroversi
Baca dalam 60 detik
- Keputusan kontroversial VAR di perempat final Piala Dunia memicu perdebatan tentang efektivitas teknologi dalam sepak bola.
- Masalah utama terletak pada inkonsistensi penerapan aturan dan batasan VAR dalam meninjau keputusan tertentu.
- Investasi besar membuat VAR sulit ditinggalkan, namun transparansi dan kepercayaan publik justru menurun.

Piala Dunia 2026 yang baru saja memasuki babak perempat final justru diwarnai kontroversi keputusan wasit yang memanfaatkan teknologi Video Assistant Referee (VAR). Alih-alih menyelesaikan perdebatan, sistem yang dirancang untuk meminimalkan kesalahan manusia ini justru memicu gelombang kritik baru dari penggemar dan pengamat sepak bola global.
Tiga keputusan krusial dalam laga Inggris vs Norwegia dan Argentina vs Swiss menjadi sorotan. Gol Norwegia dianulir karena pelanggaran sebelumnya, sementara gol Inggris tetap disahkan meski bola sempat mengenai kabel di atas lapanganโkeputusan yang didasarkan pada detektor kontak "snicko". Kartu kuning kedua untuk penyerang Swiss, Breel Embolo, juga menuai protes karena dianggap terlalu keras. FIFA membela semua keputusan tersebut, namun publik tetap kecewa.
Menurut Pierluigi Collina, kepala wasit FIFA, VAR harus menyesuaikan diri dengan gaya memimpin wasit di lapangan. Jika wasit mengizinkan kontak fisik yang kuat, VAR harus mengikuti standar tersebut. Namun, mencari titik temu konsistensi ternyata sangat sulit. Akibatnya, banyak keputusan VAR dianggap tidak konsisten, bahkan dalam situasi yang serupa.
Kasus di Serie A Italia antara Juventus dan Inter Milan menjadi contoh nyata kelemahan VAR. Wasit memberikan kartu kuning kedua kepada pemain Juventus setelah kontak minimal yang dibesar-besarkan oleh pemain Inter. Saat itu, VAR tidak bisa campur tangan karena aturan melarang peninjauan kartu kuning kedua. Meski aturan kemudian diubah, Gianluca Rocchi, kepala wasit Serie A, justru memperingatkan bahaya penggunaan teknologi yang berlebihan.
Masalah transparansi juga menjadi isu krusial. Dalam laga Qatar vs Swiss, VAR berhasil memutuskan penalti setelah meninjau offside, namun infografis hasil review tidak ditampilkan karena gangguan teknis. FIFA mengakui review berjalan sukses, tetapi ketiadaan informasi visual membuat fans curiga. "Keadilan harus terlihat dilakukan," ujar seorang analis sepak bola.
Di luar lapangan, VAR juga dihantui skandal. Seorang asisten wasit VAR tertangkap basah mengakses situs judi saat bertugas, sementara yang lain diskors karena terlibat pengaturan skor. Bahkan, FIFA sendiri dikritik karena mencabut larangan bermain terhadap pemain AS setelah intervensi politik, yang membuka celah intervensi serupa dari negara lain.
Bagi Indonesia, perkembangan VAR menjadi pelajaran berharga. Liga 1 Indonesia yang mulai mengadopsi VAR pada musim 2024 perlu memastikan transparansi dan konsistensi penerapan. Tanpa infrastruktur yang memadai dan pelatihan wasit yang ketat, VAR justru bisa menjadi sumber konflik baru, bukan solusi. Apalagi, biaya tinggi yang dikeluarkan untuk teknologi ini harus sebanding dengan peningkatan kualitas pertandingan.
Pada akhirnya, VAR mungkin tidak akan pernah bisa menghilangkan unsur manusia dalam sepak bola. Seperti kata Collina, "Sepak bola adalah seni, bukan sains murni." Pertanyaannya, mampukah FIFA dan federasi sepak bola nasional menemukan keseimbangan antara teknologi dan esensi olahraga yang penuh emosi ini?



