Skema Pertahanan Gelar di Royal Birkdale: Scottie Scheffler dan Rory McIlroy Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Scottie Scheffler berambisi memutus puasa juara bertahan British Open yang berlangsung 18 tahun sejak Padraig Harrington pada 2008.
- Royal Birkdale yang menguning akibat gelombang panas ketiga Inggris akan menguji akurasi pemain dengan fairways cepat dan rough lebat.
- Dominasi Amerika dalam lima edisi terakhir (empat kemenangan) menjadi latar perburuan gelar ke-154 yang juga diwarnai harapan tuan rumah Inggris.

Scottie Scheffler, pegolf nomor satu dunia asal Amerika Serikat, memasuki The Open ke-154 di Royal Birkdale dengan misi berat: menjadi pemain pertama dalam 18 tahun yang mampu mempertahankan gelar Claret Jug. Terakhir kali prestasi itu tercipta adalah saat Padraig Harrington menang di lapangan yang sama pada 2008. Sejak itu, turnamen golf tertua di dunia ini justru kerap melahirkan juara baru.
Scheffler, yang musim lalu menaklukkan Portrush dengan keunggulan empat pukulan, belum meraih kemenangan sejak turnamen pembuka musimnya. Persiapan sang juara bertahan sempat terusik setelah gagal lolos cut di Scottish Open pekan lalu โ kegagalan pertamanya dalam empat tahun. Namun, kekalahan dini itu memberinya waktu ekstra untuk mempelajari Royal Birkdale, lapangan yang belum pernah ia jamah sebelumnya.
Di sisi lain, Rory McIlroy dari Irlandia Utara datang dengan momentum positif usai mempertahankan gelar Masters April lalu. Meski jadwal turnamennya lebih jarang demi menjaga keseimbangan hidup, McIlroy menunjukkan performa menjanjikan di Scottish Open dengan menembus posisi tujuh berkat ronde akhir 64 pukulan. "Saya rasa kondisi saya tidak terlalu jauh. Ada tanda-tanda positif," ujarnya. McIlroy pernah merebut Claret Jug pada 2014 di Royal Liverpool, tak jauh dari Birkdale.
Dominasi pegolf Amerika dalam lima edisi terakhir โ Xander Schauffele (2024), Brian Harman (2023), dan Collin Morikawa (2021) โ menambah tekanan bagi para penantang Eropa. Sementara itu, publik Inggris masih menanti juara tuan rumah sejak Nick Faldo pada 1992. Harapan kini bertumpu pada Tommy Fleetwood, yang tumbuh besar di sekitar lapangan Birkdale dan kerap menyelinap bermain bersama ayahnya semasa kecil. Justin Rose, yang pada 1998 sebagai amatir finis keempat di lapangan yang sama, serta Matt Fitzpatrick dan Aaron Rai juga dianggap mampu memutus puasa panjang tersebut.
Royal Birkdale sendiri menyajikan tantangan khas links golf. Lapangan par-70 yang biasanya hijau kini berubah warna menjadi kekuningan akibat gelombang panas ketiga yang melanda Inggris. Fairways yang cepat dan rough yang menghukum menuntut akurasi pukulan tee yang tinggi. Angin kencang yang diperkirakan bertiup dari Laut Irlandia menambah kompleksitas strategi para pemain. Kondisi ini diprediksi akan menguji kemampuan adaptasi dan ketahanan mental para kontestan.
Bagi penggemar golf Indonesia, The Open selalu menjadi tontonan yang menarik karena menampilkan permainan di lapangan alami yang sangat berbeda dengan lapangan tropis di Asia Tenggara. Meski belum ada pegolf Indonesia yang berlaga, turnamen ini kerap menjadi referensi bagi pegolf Tanah Air dalam memahami variasi kondisi lapangan global. Selain itu, dominasi Amerika dan kebangkitan pemain Eropa bisa menjadi bahan analisis bagi pengamat golf lokal mengenai tren persaingan di level tertinggi.
Dengan absennya juara bertahan yang konsisten dan cuaca ekstrem yang menyelimuti Birkdale, The Open ke-154 menjanjikan persaingan yang ketat. Akankah Scheffler mematahkan kutukan juara bertahan, atau justru muncul nama baru yang menorehkan sejarah? Semua akan terjawab mulai Kamis hingga Minggu pekan ini.



