Kebakaran Bar di Bangkok Tewaskan 27 Orang, Saksi Sebut Interior Seperti Labirin
Baca dalam 60 detik
- Ledakan dan api melalap bar Rong Beer Na Lat Phrao di Bangkok saat konser berlangsung, menewaskan 27 orang dan melukai puluhan lainnya.
- Saksi menggambarkan interior bar yang gelap, langit-langit rendah, dan jalur evakuasi yang tidak jelas, memperparah kepanikan pengunjung.
- Tragedi ini kembali menyoroti lemahnya standar keselamatan kebakaran di tempat hiburan malam Thailand, menjadi peringatan bagi negara tetangga termasuk Indonesia.

Ledakan hebat mengguncang bar Rong Beer Na Lat Phrao di distrik Chatuchak, Bangkok, Minggu malam, saat grup band indie Thotsakan sedang manggung. Dalam hitungan detik, api menjalar ke seluruh ruangan yang padat pengunjung, menewaskan sedikitnya 27 orang dan melukai puluhan lainnya. Peristiwa ini menjadi salah satu kebakaran paling mematikan di Thailand dalam satu dekade terakhir.
Manajer band, Ice Athipat Wijarn, yang duduk di sisi panggung, melihat asap muncul dari belakang pemain keyboard. Keyboardis Kwang berteriak meminta orang-orang melarikan diri, namun api sudah menyambar dengan cepat. Ice mengaku meraba-raba pintu dalam kepungan asap sebelum sebuah ledakan mendorongnya keluar dari bar. Tiga anggota ThotsakanโKwang, vokalis perempuan Breeze, dan drummer Bewโdikonfirmasi tewas akibat luka bakar, sementara vokalis pria Din masih belum diketahui nasibnya. Vokalis utama Tik Chaichana selamat tanpa cedera karena kebetulan sedang ke kamar mandi saat api mulai berkobar.
Rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan kepanikan luar biasa: pengunjung berteriak, beberapa dengan pakaian terbakar, berdesakan keluar melalui pintu depan yang juga dilalap api. Hingga Senin, lebih dari 60 orang masih dirawat di rumah sakit, delapan di antaranya dalam kondisi kritis. Hanya satu warga asing, seorang warga Laos, yang teridentifikasi di antara korban tewas.
Para saksi menggambarkan interior bar yang gelap dan seperti labirin. Phatsara Khamloet, yang pernah mengunjungi bar tersebut pada Mei lalu, mengatakan tempat itu sangat gelap sehingga terlihat seperti tidak buka. Ia harus melewati rute berliku untuk mencapai toilet dan mencatat bahwa pintu keluar tidak diberi tanda dengan jelas. "Saat melangkah masuk, perasaan pertama saya adalah, 'Wah, kalau ada kebakaran, bagaimana kami bisa keluar?'" ujarnya. Sirinya, warga sekitar, mengingat bar tersebut memiliki langit-langit rendah dan jalur evakuasi yang tidak jelas. Ia khawatir tragedi serupa bisa terulang karena banyak pub serupa di kawasan itu.
Gubernur Bangkok, Chatchart Sittipunt, mengatakan bahwa dekorasi interior yang mudah terbakar di langit-langit bar kemungkinan mempercepat penyebaran api. Ia juga melaporkan adanya korban yang ditemukan tidak sadarkan diri di dekat pintu darurat, yang mengindikasikan adanya obstruksi. Namun, ia menekankan perlunya investigasi menyeluruh untuk memastikan detail tersebut. Tragedi ini kembali memicu seruan untuk memperketat standar keselamatan kebakaran dan pelatihan evakuasi bagi staf tempat hiburan malam.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap tempat hiburan serupa. Banyak bar dan klub malam di kota-kota besar Indonesia yang juga memiliki tata ruang padat, dekorasi mudah terbakar, dan pintu darurat yang tidak memadai. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan dinas pemadam kebakaran di Jakarta, Surabaya, dan kota lainnya perlu mengevaluasi kembali kepatuhan terhadap standar keselamatan, terutama menjelang musim liburan ketika kunjungan ke tempat hiburan meningkat. Tanpa tindakan preventif, bukan tidak mungkin tragedi serupa terjadi di dalam negeri.
Ke depan, pertanyaan mendasar yang harus dijawab adalah: apakah pemerintah daerah di Indonesia akan menunggu korban jatuh baru bertindak, atau justru mengambil langkah proaktif dengan melakukan inspeksi mendadak dan mewajibkan simulasi evakuasi secara berkala? Tragedi Bangkok menunjukkan bahwa kelalaian sekecil apa pun bisa berakibat fatal.



