Zverev Yakin Gaya Agresif Bisa Saingi Sinner dan Alcaraz
Baca dalam 60 detik
- Alexander Zverev akan naik ke peringkat dua dunia setelah menjadi runner-up Wimbledon, namun ia masih tertinggal dari Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz.
- Petenis Jerman itu mengadopsi strategi menyerang, terutama pada forehand, yang membawanya ke final Wimbledon dan gelar Grand Slam pertamanya di Prancis Terbuka.
- Zverev percaya pendekatan baru ini bisa mempersempit jarak dengan dua rival utamanya, meski ia belum pernah mengalahkan mereka tahun ini.

Alexander Zverev akan mengudara ke peringkat dua dunia ATP pada Senin setelah tampil gemilang di Wimbledon, namun petenis Jerman itu sadar betul bahwa puncak persaingan tenis pria masih dikuasai oleh Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz. Meski demikian, Zverev yakin bahwa transformasi gaya bermainnya yang kini lebih agresif menjadi kunci untuk mendekati level dua rival tangguhnya tersebut.
Pada final Wimbledon, Zverev nyaris mematahkan dominasi Sinner. Ia memimpin lebih dulu setelah merebut set pertama melalui tiebreak, dan unggul 3-3 pada set ketiga saat sebuah insiden terjatuh mengubah jalannya pertandingan. Zverev akhirnya kalah 6-7(7), 7-6(2), 6-3, 6-4 โ kekalahan ke-10 beruntunnya dari petenis Italia itu. Namun, performa kali ini berbeda: Zverev mampu memberikan perlawanan sengit dan bahkan mematahkan rekor 14 set kalah beruntun dari Sinner.
Kebangkitan Zverev tak lepas dari kemenangan perdananya di Grand Slam pada Prancis Terbuka bulan lalu, meski harus diakui bahwa Sinner tersingkir di babak kedua dan Alcaraz absen karena cedera pergelangan tangan. Namun, kepercayaan diri yang diperoleh dari kemenangan atas Flavio Cobolli di Roland Garros terbawa ke lapangan rumput Wimbledon. Zverev tampil dengan pendekatan menyerang yang jauh lebih berani, terutama pada pukulan forehand yang sebelumnya dianggap terlalu pasif.
"Saya sudah mengatakan sejak awal tahun bahwa ini tenis yang ingin saya mainkan. Gaya permainan ini yang saya kejar," ujar Zverev kepada wartawan. "Ada pertandingan di awal tahun di mana saya masih kesulitan dengan gaya ini, tapi saya terus melakukannya secara konsisten. Semakin sering saya lakukan, semakin baik hasilnya." Ia menambahkan bahwa kemenangan Grand Slam perdana di Paris dan capaian final di Wimbledon membuktikan bahwa pendekatan barunya membuahkan hasil.
Zverev juga menyadari bahwa Sinner dan Alcaraz telah mengoleksi total 12 gelar Grand Slam, namun ia optimistis bisa bersaing. "Saya pikir saya sudah mendorong mereka. Saya belum mengalahkan mereka tahun ini, tapi saya sudah membuat mereka bekerja keras," katanya. "Alcaraz di Australia, Jannik di sini. Meski empat set, tapi sangat ketat dan bisa saja berlangsung lima set." Ia mengakui bahwa selama beberapa tahun terakhir ia selalu menjadi "orang ketiga" yang jauh dari dua pemain teratas, namun kini ia berharap bisa lebih dekat dan ikut memperebutkan gelar-gelar besar.
Insiden jatuh di set ketiga final Wimbledon sempat memengaruhi servis Zverev. "Saya mengalami over-extension pada lutut lagi, mirip dengan dua tahun lalu. Saya kesulitan mendorong saat servis, jadi kecepatan servis saya menurun," jelasnya. Namun ia menegaskan bahwa secara keseluruhan level permainannya tetap tinggi. Dengan gaya agresif yang kini menjadi identitas barunya, Zverev bertekad untuk terus mendekati Sinner dan Alcaraz. Pertanyaannya, mampukah ia mengakhiri rekor buruk melawan keduanya dan merebut gelar Grand Slam kedua dalam waktu dekat?



