Bos BEI Bantah Narasi IHSG Anjlok Tiap Prabowo Pidato: Korelasi Politik-Pasar Semakin Lemah
Baca dalam 60 detik
- Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai klaim netizen yang mengaitkan pelemahan IHSG dengan pidato Presiden Prabowo sebagai penyederhanaan berlebihan.
- Menurut BEI, korelasi antara dinamika politik dan keputusan investasi di pasar modal Indonesia terus menurun, sejalan dengan tren di negara maju seperti AS.
- Secara historis, IHSG tercatat turun 23,27% sejak Oktober 2024, namun faktor fundamental ekonomi dinilai lebih dominan dibanding momen politik tertentu.

Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya angkat bicara mengenai narasi yang ramai di media sosial yang menyebutkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selalu melemah setiap kali Presiden Prabowo Subianto berpidato. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa klaim tersebut terlalu menyederhanakan kompleksitas pergerakan pasar modal.
Menurut Jeffrey, mengaitkan fluktuasi IHSG semata-mata dengan pidato kepala negara adalah pendekatan yang tidak tepat. Sebab, dalam waktu yang bersamaan, ada banyak variabel lain—mulai dari data ekonomi global, kebijakan moneter, hingga sentimen investor asing—yang turut memengaruhi arah indeks. "Harusnya sih enggak ya. Karena pada saat yang bersamaan juga ada faktor-faktor lain yang sebenarnya muncul di situ. Tapi kalau itu dikait-kaitkan ya saya kira tidak terlalu pas," ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, Senin (13/7/2026).
Ia menambahkan, setiap keputusan investasi pada dasarnya didasari pertimbangan rasional dari sisi ekonomi. Karena itu, pergerakan pasar tidak bisa direduksi hanya karena satu atau dua faktor, termasuk aktivitas politik. Jeffrey juga menekankan bahwa hubungan antara politik dan investasi di pasar modal semakin longgar seiring perkembangan zaman. "Kalau kami melihat dari waktu ke waktu, korelasi antara politik dengan keputusan investasi itu semakin berkurang. Di tahun 80-an, korelasinya masih tinggi. Sekarang, tidak lagi," jelasnya.
Jeffrey membandingkan kondisi Indonesia dengan negara maju seperti Amerika Serikat, di mana aktivitas politik kini hampir tidak memiliki dampak langsung terhadap kegiatan investasi di bursa. Menurutnya, tren serupa sudah berlangsung cukup lama di Indonesia, sehingga korelasi antara pidato presiden dan pergerakan IHSG saat ini tidak lagi signifikan. Pernyataan ini sekaligus menjawab unggahan viral di aplikasi X yang menuding pasar saham "merosot" saat Prabowo berbicara. Salah satu akun, @jhonsito***, menulis pada 20 Mei 2026: "Perhatikan angka IHSG di samping kanan layar saat Presiden Prabowo pidato, MEROSOT. Bahkan dalam 2 menit beliau pidato, IHSG anjlok 5 poin."
Meski demikian, data historis menunjukkan IHSG memang mengalami penurunan signifikan sejak Prabowo dilantik. Pada 18 Oktober 2024—dua hari sebelum pelantikan—hingga 13 Juli 2026, indeks komposit telah terkoreksi 23,27%. Namun, para analis menilai penurunan ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kenaikan suku bunga The Fed, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian ekonomi global, bukan semata-mata karena pidato presiden.
Bagi investor Indonesia, klarifikasi BEI ini penting untuk menghindari kesimpulan yang terlalu simplistis. Pasar modal tetap bergerak berdasarkan data dan ekspektasi fundamental, bukan momen politik sesaat. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah IHSG mampu bangkit kembali seiring membaiknya sentimen global, atau justru tekanan politik domestik masih akan membayangi?



