Maldini dan Leonardo: Duo Legenda AC Milan yang Akan Merombak Sepak Bola Italia
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini resmi menjabat direktur teknis FIGC, berpartner dengan Leonardo sebagai penasihat.
- Tugas utama mereka adalah memilih pelatih kepala baru dan merancang ulang pembinaan pemain muda Italia.
- Keputusan ini dinilai sebagai langkah berani untuk mengembalikan kejayaan Azzurri di pentas global.

Paolo Maldini, legenda hidup AC Milan dan salah satu bek terbaik sepanjang masa, telah menerima tawaran Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk menjadi direktur teknis baru Timnas Italia. Ia tidak sendirian: mantan rekan setimnya di Milan, Leonardo, akan bergabung sebagai penasihat. Langkah ini menandai dimulainya era baru bagi Azzurri, yang tengah berusaha bangkit setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022 dan tampil inkonsisten di turnamen-turnamen terakhir.
Keputusan FIGC menunjuk dua tokoh berkaliber tinggi ini bukan tanpa alasan. Italia membutuhkan sosok yang tidak hanya paham sepak bola level atas, tetapi juga memiliki visi jangka panjang untuk membangun kembali fondasi sepak bola Italia. Maldini, yang sebelumnya menjabat direktur teknis AC Milan dan sukses membawa klub tersebut kembali ke papan atas Serie A serta meraih scudetto pada 2022, dianggap memiliki rekam jejak yang tepat. Leonardo, yang pernah menjadi direktur olahraga di Milan, Inter Milan, dan Paris Saint-Germain, melengkapi duet ini dengan pengalaman internasional yang luas.
Tugas pertama dan paling mendesak bagi Maldini dan Leonardo adalah menentukan siapa yang akan duduk di kursi pelatih kepala Timnas Italia. Pelatih saat ini, Luciano Spalletti, masih memiliki kontrak hingga 2026, namun hasil-hasil terakhir di kualifikasi Euro 2024 dan performa di turnamen sebelumnya memunculkan spekulasi soal masa depannya. Siapa pun yang nantinya ditunjuk, ia harus sejalan dengan filosofi yang akan dibangun Maldini: sepak bola menyerang yang modern, pengembangan pemain muda secara sistematis, dan identitas permainan yang khas Italia namun adaptif terhadap tren global.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah FIGC ini bisa menjadi pelajaran berharga. PSSI saat ini juga tengah berupaya mereformasi sepak bola nasional, termasuk dengan menunjuk pelatih asing dan membangun akademi. Model Italia yang mengandalkan figur legendaris dengan pengalaman manajerial—bukan sekadar nama besar—dapat menjadi referensi. Maldini bukan hanya ikon lapangan, tetapi juga eksekutif yang terbukti mampu membaca pasar transfer dan mengelola ekspektasi publik. Di Indonesia, publik kerap mempertanyakan kapasitas manajerial mantan pemain yang langsung duduk di kursi federasi; kasus Maldini menunjukkan bahwa dengan rekam jejak yang tepat, transisi itu bisa sukses.
Namun, tantangan di depan Maldini dan Leonardo tidak ringan. Sepak bola Italia tengah menghadapi krisis regenerasi: minimnya pemain muda yang menembus tim utama klub-klub besar Serie A, ketergantungan pada pemain naturalisasi, dan gaya bermain yang dianggap ketinggalan zaman. Selain itu, tekanan publik dan media Italia yang sangat tinggi bisa menjadi bumerang jika hasil tidak segera terlihat. Maldini sendiri pernah mengalami kritik tajam saat awal membangun Milan, namun ia bertahan dan menuai hasil. Kini, ia harus membuktikan bahwa resep yang sama bisa bekerja di level tim nasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Maldini dan Leonardo mampu membawa Italia kembali ke puncak sepak bola dunia, atau justru terjebak dalam birokrasi dan politik sepak bola Italia yang rumit? Dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, Italia harus segera bangkit jika tidak ingin kembali menjadi penonton. Keputusan-keputusan dalam enam bulan ke depan akan menjadi penentu arah perjalanan Azzurri untuk satu dekade ke depan.



