MPLS 2026 Resmi Dimulai, Mendikdasmen Larang Keras Perpeloncoan dan Senioritas
Baca dalam 60 detik
- Kemendikdasmen meluncurkan MPLS Ramah 2026 sebagai awal tahun ajaran baru, menekankan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif.
- Menteri Abdul Mu'ti menginstruksikan agar MPLS bebas dari praktik perpeloncoan dan senioritas, serta fokus pada pengembangan bakat siswa.
- Buku Rujukan MPLS Ramah 2026 diterbitkan sebagai panduan kegiatan adaptif, termasuk pencegahan narkoba dan pengenalan budaya sekolah.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026, menandai dimulainya Tahun Ajaran 2026/2027 dengan komitmen kuat untuk menghapus praktik perpeloncoan dan senioritas di lingkungan sekolah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, dalam keterangan resminya Senin (13/7), menegaskan bahwa MPLS merupakan fase krusial bagi siswa untuk memulai perjalanan belajar. Ia mengajak seluruh siswa menjadikan momen ini sebagai langkah awal meraih cita-cita. โKami mengajak anak-anakku sekalian untuk menjadikan momentum MPLS sebagai langkah awal menatap masa depan yang gemilang,โ ujarnya.
Mu'ti menekankan bahwa setiap anak Indonesia, tanpa memandang latar belakang ekonomi, kemampuan intelektual, atau kondisi fisik, berhak mendapatkan pendidikan bermutu di lingkungan yang aman dan nyaman. Ia mengingatkan bahwa MPLS tidak boleh diwarnai perpeloncoan atau senioritas, melainkan menjadi ajang membangun saling menghormati dan mengembangkan bakat. โMPLS Ramah juga menjadi momentum untuk menemukan, menggali, dan mengembangkan bakat anak-anak Indonesia,โ tuturnya.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menambahkan bahwa MPLS harus menjadi ruang adaptasi yang didampingi guru ramah dan kakak kelas bersahabat. Untuk mendukung hal tersebut, Kemendikdasmen menerbitkan Buku Rujukan MPLS Ramah 2026 yang berisi contoh kegiatan seperti Salam Sapa Murid Baru, Upacara Bendera, Pagi Ceria, pengenalan Delapan Dimensi Profil Lulusan, serta Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Materi penguatan juga mencakup pencegahan narkoba, bahaya judi, serta budaya disiplin dan tanggung jawab.
Di SMK Negeri 2 Singosari, panitia MPLS Ramah, Putri Kayla Azzahra, siswa kelas XI Animasi, bersama OSIS menyambut sekitar 600 murid baru. Ia menuturkan bahwa sejak pra-MPLS, siswa baru diajak berkeliling mengenal lingkungan sekolah. Selama MPLS, mereka mengikuti materi pengenalan budaya sekolah, bahaya NAPZA, dan budaya ASRI. Kegiatan ditutup dengan pentas seni dan lomba untuk mempererat kebersamaan. โUntuk adik-adik, terus semangat dan jangan takut untuk mencoba, karena kami di sini bersama-sama untuk membuat inovasi baru dan meraih prestasi,โ ujar Kayla.
Ke depan, keberhasilan MPLS Ramah akan bergantung pada konsistensi sekolah dalam menerapkan pedoman yang telah ditetapkan. Apakah praktik perpeloncoan benar-benar bisa dihilangkan dari tradisi MPLS di Indonesia? Hanya dengan pengawasan ketat dan partisipasi aktif orang tua serta guru, visi sekolah sebagai rumah kedua yang aman dapat terwujud.



