Dua Alasan Mengapa Mancini Ungguli Conte dan Guardiola dalam Perburuan Kursi Pelatih Timnas Italia
Baca dalam 60 detik
- Roberto Mancini menjadi kandidat terkuat pelatih Italia berkat hubungan erat dengan presiden FIGC anyar dan dukungan mayoritas pemain.
- Restrukturisasi besar di FIGC, termasuk masuknya Paolo Maldini sebagai direktur teknis, membuka peluang bagi pelatih asing seperti Guardiola.
- FIGC masih membuka kemungkinan kejutan, meski Mancini diunggulkan karena rekam jejak trofi dan fokus pada pembinaan pemain muda.

Roberto Mancini kembali menjadi kandidat utama untuk menukangi tim nasional Italia setelah Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) memulai babak baru dengan presiden dan direktur teknis yang baru. Dua faktor kunci membuatnya unggul atas Antonio Conte dan Pep Guardiola dalam perburuan kursi yang ditinggalkan Gennaro Gattuso.
FIGC tengah mengalami revolusi di jajaran puncak. Giovanni Malagò resmi menggantikan Gabriele Gravina sebagai presiden, sementara legenda AC Milan Paolo Maldini ditunjuk sebagai direktur teknis dan Presiden Club Italia. Leonardo, mantan direktur olahraga PSG, juga bergabung sebagai penasihat. Kini, fokus beralih ke kursi pelatih kepala yang lowong setelah Gattuso hengkang.
Selama beberapa pekan, nama Mancini dan Conte disebut-sebut sebagai dua kandidat terdepan. Keduanya pernah menangani Gli Azzurri sebelumnya, memiliki pengalaman mentereng di level tertinggi, dan dilaporkan bersedia kembali. Namun, laporan dari Corriere dello Sport pada Senin (27/5) mengungkapkan bahwa Mancini masih menjadi favorit karena dua alasan utama.
Pertama, kedekatan Mancini dengan Malagò. Keduanya disebut memiliki visi yang selaras, menjadikan Mancini sebagai pilihan yang nyaman bagi presiden baru. Kedua, dukungan dari para pemain. Setelah Luciano Spalletti meninggalkan posisinya pada 2025, sejumlah penggawa timnas dikabarkan mendorong FIGC untuk memulangkan Mancini. Faktor lain yang menguntungkan adalah rekam jejaknya sebagai pelatih yang pernah membawa Italia juara Euro 2020, perhatiannya terhadap talenta muda, serta familiaritasnya dengan Coverciano dan lingkungan tim nasional.
Meski demikian, persaingan belum berakhir. Antonio Conte tetap menjadi ancaman serius, sementara Pep Guardiola kembali mencuat sebagai kandidat setelah Maldini menjabat direktur teknis. Nama-nama seperti Andrea Pirlo dan Carlo Ancelotti juga disebut-sebut sebagai kandidat kejutan. Malagò sendiri telah mengingatkan bahwa "bisa saja ada kejutan" dalam proses seleksi ini.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika ini menarik karena menunjukkan bagaimana faktor politik internal federasi dan chemistry dengan pemain bisa menentukan arah kepelatihan tim sekelas Italia. Jika Mancini kembali, ia akan membawa pengalaman dan pendekatan yang sudah teruji, namun tantangan regenerasi skuad tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Pertanyaannya, akankah FIGC memilih jalan aman dengan Mancini, atau justru mengambil risiko dengan figur baru seperti Guardiola atau Pirlo?



