Kartu Merah Kontroversial di Piala Dunia 2026: Swiss Keberatan Aturan Baru FIFA-IFAB
Baca dalam 60 detik
- Wasit memberikan kartu merah kepada Breel Embolo setelah meninjau VAR, memicu protes keras timnas Swiss.
- Aturan mistaken identity yang baru diterapkan FIFA dan IFAB menjadi pangkal perdebatan dalam laga perempat final.
- Keputusan ini berpotensi mempengaruhi kepercayaan terhadap sistem VAR dan regulasi wasit di turnamen mendatang.

Kartu merah yang diterima penyerang Swiss, Breel Embolo, dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Argentina memicu kemarahan publik dan federasi sepak bola Swiss. Keputusan wasit yang didasarkan pada aturan baru FIFA dan International Football Association Board (IFAB) tentang mistaken identity atau kesalahan identitas pemain menjadi pusat kontroversi.
Insiden terjadi pada babak kedua saat kedudukan masih imbang. Wasit awalnya memberikan kartu kuning kepada pemain Argentina, namun setelah meninjau VAR dan berkonsultasi dengan asisten, ia mengubah keputusannya menjadi kartu merah untuk Embolo. Federasi Sepak Bola Swiss (SFV) menyatakan kekecewaan mendalam dan menilai wasit telah salah menginterpretasi aturan baru tersebut.
Aturan mistaken identity yang diperkenalkan FIFA dan IFAB pada awal 2026 memungkinkan wasit untuk mengoreksi identitas pemain yang seharusnya dihukum, bahkan jika pelanggaran telah terjadi beberapa saat sebelumnya. Namun, dalam praktiknya, aturan ini dinilai membingungkan dan rentan terhadap kesalahan subjektif. Analis sepak bola menilai bahwa penerapan aturan tersebut dalam momen krusial seperti perempat final Piala Dunia justru menimbulkan ketidakadilan.
Bagi Indonesia, kontroversi ini menjadi pengingat pentingnya kejelasan regulasi dalam sepak bola modern. Meski tidak terlibat langsung, perkembangan aturan FIFA selalu menjadi acuan bagi PSSI dan Liga Indonesia. Jika aturan mistaken identity diterapkan di kompetisi domestik, potensi kebingungan dan protes serupa bisa terjadi. Pengamat sepak bola Indonesia, Anton Sanjoyo, menilai bahwa FIFA perlu melakukan sosialisasi lebih intensif agar wasit di semua level memahami aturan baru secara seragam.
Di sisi lain, Argentina diuntungkan dengan keputusan tersebut. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, enggan berkomentar banyak, namun secara implisit mendukung keputusan wasit. Sementara itu, kapten Swiss, Granit Xhaka, secara terbuka mengkritik wasit dan menyebut aturan baru itu โtidak masuk akalโ dan โmerusak semangat sepak bolaโ.
Ke depannya, FIFA dan IFAB dihadapkan pada tekanan untuk mengevaluasi kembali aturan mistaken identity. Jika tidak segera direvisi, bukan tidak mungkin kontroversi serupa akan terulang di turnamen-turnamen berikutnya. Pertanyaan besarnya: apakah FIFA akan mempertahankan aturan ini demi akurasi atau mengalah pada protes demi keadilan yang dirasakan semua pihak?



