Makan Nasi Ayam di Tiffany’s: Julien Royer Rancang Menu untuk Blue Box Cafe Singapura
Baca dalam 60 detik
- Tiffany & Co membuka Blue Box Cafe pertama di Asia Tenggara di Ion Orchard, Singapura, dengan menu eksklusif dari chef Julien Royer.
- Menu sarapan, teh sore, dan sepanjang hari memadukan sentuhan Prancis, Amerika, dan Asia, termasuk hidangan nasi ayam ala Royer.
- Kafe ini menjadi bagian dari jaringan global Blue Box Cafe yang berkolaborasi dengan chef terkenal di berbagai kota dunia.

Pecinta perhiasan, penggemar film klasik, dan gourmand kini memiliki alasan baru untuk berkunjung ke Singapura: Blue Box Cafe di gerai flagship Tiffany & Co di Ion Orchard. Bukan sekadar tempat makan, kafe ini menawarkan pengalaman bersantap yang dirancang oleh Julien Royer, chef di balik restoran Odette yang menyandang tiga bintang Michelin.
Terletak di lantai tiga toko perhiasan mewah tersebut, Blue Box Cafe menjadi restoran permanen pertama Tiffany & Co di Singapura. Ruangannya dirancang oleh arsitek Amerika Peter Marino dengan dominasi warna biru khas merek, sementara ratusan kotak biru ikonik menggantung di langit-langit menciptakan suasana intim sekaligus megah. Menu yang disajikan mencakup sarapan, teh sore, dan hidangan sepanjang hari, semuanya dengan sentuhan khas Royer yang memadukan teknik Prancis, inspirasi Amerika, dan pengaruh Asia.
Kolaborasi ini menandai kemitraan merek resmi pertama bagi Royer, yang telah lama tinggal dan bekerja di Singapura. “Saya ingin menciptakan menu yang mencerminkan perjalanan kuliner saya, dari Prancis ke Asia, sambil menghormati warisan Tiffany,” ujar Royer dalam pernyataan resmi. Menu sarapan seharga S$78 misalnya, menampilkan telur rebus Jepang dari Oita dengan kaviar Oscietra dan brioche panggang, serta baguette khas Odette dan selai musiman. Sementara menu teh sore (S$98) menawarkan Croque Madame dengan Comte tua dan saus bechamel yang dibungkus filo, millefeuille kentang dengan kaviar, serta aneka kue kecil seperti pandan chouquette dan flan vanila Vanuatu.
Menu sepanjang hari menjadi daya tarik tersendiri, dengan pilihan seperti burger daging sapi Black Angus dan keju cheddar di roti brioche (S$34), Patagonian toothfish dengan dashi dan beurre blanc sake-rumput laut (S$58), serta ravioli jamur liar (S$48). Namun yang paling menarik perhatian adalah “Confit Yellow Chicken” (S$48), hidangan nasi ayam khas Singapura versi Royer: beras Niigata dimasak ala claypot, ditaburi kulit ayam goreng, dan disajikan dengan ayam confit. Sentuhan lokal ini menunjukkan bagaimana Royer menghormati kuliner Asia tanpa kehilangan identitas Prancisnya.
Bagi konsumen Indonesia, kehadiran Blue Box Cafe di Singapura membuka peluang wisata kuliner mewah yang dekat secara geografis. Meski belum ada rencana ekspansi ke Indonesia, tren kolaborasi antara merek fashion dan chef bintang Michelin mulai menarik perhatian pelaku industri F&B Tanah Air. “Model bisnis seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi merek lokal untuk menciptakan pengalaman eksklusif yang menggabungkan ritel dan gastronomi,” kata analis industri ritel dari Universitas Indonesia, Ahmad Zaky.
Blue Box Cafe Singapura bergabung dengan jaringan kafe serupa di New York (kolaborasi dengan Daniel Boulud), Tokyo (Natsuko Shoji), dan Hong Kong (Augustin Balbi). Dengan harga yang setara dengan restoran fine dining, kafe ini menargetkan pelanggan yang mencari pengalaman lebih dari sekadar makan—sebuah pernyataan gaya hidup. Pertanyaannya, apakah model ini akan bertahan di tengah persaingan ketat F&B Singapura, atau justru menjadi destinasi baru yang wajib dikunjungi?



