Kapten Speedboat Ditahan, 15 Turis India Tewas di Perairan Phu Quoc
Baca dalam 60 detik
- Kapten speedboat yang tenggelam di lepas Pulau Phu Quoc ditahan polisi Vietnam karena diduga melanggar hukum.
- Kecelakaan yang menewaskan 15 turis India ini terjadi saat cuaca buruk, namun saksi menyatakan beberapa korban tidak mengenakan jaket pelampung.
- Insiden ini memicu penghentian sementara layanan speedboat ke gugusan pulau kecil di sekitar Phu Quoc, destinasi wisata yang tengah naik daun.

Polisi Vietnam menahan kapten speedboat yang tenggelam di perairan selatan Pulau Phu Quoc pada Sabtu (11/7), menewaskan 15 wisatawan asal India. Nakhoda berusia 57 tahun itu dijerat dengan tuduhan pelanggaran hukum yang mengakibatkan kecelakaan maut, demikian diumumkan otoritas Provinsi An Giang, Minggu (12/7).
Peristiwa nahas terjadi saat kapal bermuatan 32 turis India, tiga kru Vietnam, dan seorang pemandu wisata oleng akibat gelombang tinggi di sekitar Pulau May Rut Ngoai. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi 21 orang, namun 15 penumpang dinyatakan meninggal dunia. Kedutaan Besar India di Hanoi mengonfirmasi bahwa satu korban masih dalam perawatan intensif di rumah sakit Phu Quoc, sementara jenazah lainnya akan dipulangkan ke India.
Otoritas setempat melalui media Tuoi Tre menyebutkan bahwa investigasi awal mengindikasikan kecelakaan ini tidak terhindarkan akibat cuaca ekstrem yang berubah secara tiba-tiba. Namun, saksi mata Ha Van Loc—yang turut serta dalam pertolongan—mengatakan bahwa gelombang tinggi terjadi tanpa disertai hujan, dan beberapa kapal wisata lain masih beroperasi di area yang sama. Loc juga menyoroti bahwa sejumlah korban hanyut tanpa mengenakan jaket pelampung saat ditemukan.
Phu Quoc, pulau terbesar Vietnam, tengah mengalami lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara—mencapai 1,8 juta orang tahun lalu. Pulau-pulau kecil di sekitarnya, seperti May Rut Ngoai, menjadi tujuan populer berkat pantai berpasir putih dan terumbu karang yang mudah diakses. Namun, kecelakaan kapal wisata bukanlah hal baru di Vietnam. Cuaca buruk, banjir musiman, dan minimnya perawatan armada kerap memicu tragedi serupa.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya standar keselamatan angkutan wisata bahari. Dengan ribuan pulau dan industri pariwisata laut yang tumbuh pesat—seperti di Bali, Labuan Bajo, dan Raja Ampat—risiko kecelakaan serupa juga mengintai. Pemerintah Indonesia sendiri telah beberapa kali mengeluarkan imbauan keselamatan pelayaran, namun implementasi di lapangan masih kerap dipertanyakan.
Ke depan, langkah tegas Vietnam dalam menahan kapten kapal dan menghentikan sementara operasi speedboat bisa menjadi preseden bagi negara tetangga. Pertanyaan yang mengemuka: apakah regulasi keselamatan di kawasan ini sudah cukup ketat, ataukah tragedi seperti ini akan terus berulang sebelum perubahan berarti dilakukan?



