Rupiah Jebol ke Rp18.110, Konflik Iran-AS dan Minyak Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Rupiah anjlok 0,38% ke Rp18.110 per dolar AS pada Senin pagi, menembus level psikologis Rp18.100 hanya enam menit setelah perdagangan dibuka.
- Eskalasi konflik militer antara Iran dan AS memicu penguatan dolar indeks (DXY) ke 101,178 serta mendorong harga minyak Brent naik 3,3% ke US$78,49 per barel.
- Kenaikan harga energi berpotensi memperkuat inflasi global dan mempersulit prospek penurunan suku bunga The Fed, yang berdampak langsung pada stabilitas nilai tukar rupiah.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terperosok ke titik terendah baru pada awal pekan ini, menembus level psikologis Rp18.100 hanya dalam hitungan menit setelah perdagangan dibuka. Senin (13/7/2026) pukul 09.06 WIB, mata uang Garuda tercatat melemah 0,38% ke posisi Rp18.110 per dolar AS, membalikkan penguatan tipis yang terjadi pada akhir pekan lalu.
Data Refinitiv menunjukkan rupiah dibuka di level Rp18.075 per dolar AS, langsung tertekan oleh sentimen global yang memburuk. Penguatan indeks dolar AS (DXY) sebesar 0,22% ke level 101,178 menjadi pemicu utama, seiring membuncahnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas pada akhir pekan lalu telah mengirim gelombang kekhawatiran ke pasar keuangan global.
Pasukan Iran dilaporkan melancarkan serangan rudal dan drone ke fasilitas AS di sejumlah negara Teluk pada Minggu, serta menyatakan kembali menutup Selat Hormuz โ jalur vital bagi perdagangan energi dunia. Langkah ini langsung mendongkrak harga minyak mentah Brent sebesar 3,3% menjadi US$78,49 per barel pada awal perdagangan Asia. Kenaikan harga komoditas energi ini menjadi sinyal bahaya bagi negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah yang terus berlanjut membawa implikasi serius bagi perekonomian domestik. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga energi akan memperbesar beban impor migas dan memperlebar defisit neraca perdagangan. Di sisi lain, inflasi yang terpicu oleh kenaikan harga BBM dan bahan pangan dapat mempersulit Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga. Pelaku pasar kini mencermati apakah BI akan kembali mengintervensi pasar valas atau justru menaikkan suku bunga acuan untuk menahan arus keluar modal.
Ketegangan geopolitik yang masih berlangsung juga memicu spekulasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve, mungkin akan mempertahankan suku bunga lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi AS kembali naik, sehingga The Fed enggan melonggarkan kebijakan moneter. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) pun ikut terangkat, menarik aliran modal keluar dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Koreksi rupiah kali ini membalikkan penguatan yang sempat terjadi pada Jumat pekan lalu, saat rupiah ditutup menguat tipis ke Rp18.045 per dolar AS. Namun, sentimen positif itu sirna seiring eskalasi konflik Iran-AS yang terjadi pada akhir pekan. Para analis memperkirakan volatilitas rupiah masih akan tinggi dalam beberapa hari ke depan, tergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah dan langkah-langkah yang diambil oleh otoritas moneter domestik.
Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana Bank Indonesia bersedia mengerahkan cadangan devisa untuk menahan laju pelemahan rupiah, atau justru akan membiarkan mekanisme pasar bekerja sambil menyiapkan bantalan fiskal? Keputusan ini akan menentukan apakah rupiah mampu bertahan di bawah level Rp18.200 dalam waktu dekat, atau justru melanjutkan tren penurunan menuju rekor baru.



