Topan Bavi Meluruh, Dampak di China Timur Masih Terasa
Baca dalam 60 detik
- Topan Bavi melemah menjadi badai tropis parah setelah menerjang Zhejiang, namun angin kencang dan hujan deras masih mengancam wilayah China timur.
- Lebih dari 2,5 juta jiwa di Shanghai, Zhejiang, dan Fujian dievakuasi, sementara 653 penerbangan di dua bandara Shanghai dibatalkan.
- Di Taiwan, 134 orang dilaporkan terluka akibat angin kencang dan jalan licin, meski topan tidak mendarat langsung di pulau tersebut.

Topan Bavi yang sebelumnya menerjang pesisir timur China akhirnya melemah menjadi badai tropis parah, namun jejak kerusakan yang ditinggalkannya masih terasa luas. Dengan kecepatan angin maksimum sekitar 101 kilometer per jam di pusatnya, badai ini diperkirakan bergerak ke barat laut melintasi China timur, membawa hujan lebat dan angin kencang yang mengganggu aktivitas jutaan warga.
Menurut Pusat Meteorologi Nasional China, Bavi mendarat di Provinsi Zhejiang pada akhir pekan lalu, memicu evakuasi besar-besaran di tiga wilayah utama. Otoritas setempat melaporkan bahwa Shanghai mengevakuasi lebih dari 290.000 orang dari daerah rawan, sementara Zhejiang memindahkan sekitar 2,2 juta penduduk. Fujian, provinsi tetangga, turut mengevakuasi lebih dari 180.000 jiwa. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi banjir bandang dan tanah longsor yang kerap menyertai badai tropis di kawasan padat penduduk tersebut.
Dampak Bavi juga melumpuhkan transportasi udara. Bandara Internasional Pudong dan Hongqiao di Shanghai membatalkan sekitar 653 penerbangan, baik domestik maupun internasional, seperti dilaporkan kantor berita Xinhua. Ribuan penumpang terpaksa menunda perjalanan atau mencari rute alternatif. Di kota pesisir Yueqing, Zhejiang, lebih dari 1.300 pohon tumbang, termasuk 700 yang tercabut hingga akar, menurut siaran televisi nasional CCTV.
Meskipun Bavi tidak mendarat langsung di Taiwan, dampaknya tetap terasa. Dinas Pemadam Kebakaran Taiwan mencatat sedikitnya 134 orang terluka akibat angin kencang dan permukaan jalan licin. Sebagian besar korban adalah pengendara sepeda motor atau sepeda yang kehilangan kendali. Badai ini melewati utara Taiwan pada Sabtu lalu tanpa menghantam daratan secara langsung, namun tetap memicu peringatan keselamatan di seluruh pulau.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Meskipun topan jarang mencapai wilayah Nusantara, perubahan iklim global meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem di kawasan Asia Tenggara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau potensi siklon tropis yang dapat memengaruhi pola cuaca di Indonesia, seperti yang terjadi pada siklon Seroja tahun 2021. Evakuasi massal dan pembatalan penerbangan di China menunjukkan betapa besarnya biaya sosial dan ekonomi yang harus ditanggung jika mitigasi tidak dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.
Ke depan, para ahli meteorologi memperkirakan bahwa Bavi akan terus melemah seiring pergerakannya ke pedalaman China. Namun, ancaman banjir dan longsor masih membayangi wilayah yang dilaluinya. Pertanyaan yang muncul: apakah sistem peringatan dini dan infrastruktur evakuasi di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sudah cukup tangguh menghadapi badai serupa? Pengalaman China kali ini bisa menjadi bahan evaluasi bersama.



