Ekor Ular Laut Zaitun Berfungsi sebagai 'Mata Kedua' untuk Mendeteksi Cahaya
Baca dalam 60 detik
- Ular laut zaitun (Aipysurus laevis) memiliki kemampuan unik mendeteksi cahaya melalui kulit ekornya, bukan mata.
- Peneliti University of Adelaide menemukan gen melanopsin aktif di kulit ekor yang berfungsi sebagai sensor cahaya sederhana.
- Kemampuan ini membantu ular menarik ekornya ke tempat aman saat bersembunyi dari predator di celah karang.

Ular laut zaitun (Aipysurus laevis), penghuni terumbu karang Indo-Pasifik termasuk perairan Indonesia, memiliki kemampuan langka: mendeteksi cahaya melalui kulit di ujung ekornya. Fenomena yang disebut dermal phototaxis ini memungkinkan reptil tersebut merasakan terang-gelap tanpa melibatkan organ mata sama sekali.
Temuan ini diungkap oleh tim peneliti dari University of Adelaide yang dipimpin Jenna Crowe-Riddell, dan dipublikasikan di jurnal Molecular Ecology. Sebelumnya, kemampuan serupa hanya diketahui pada ikan dan amfibi, belum pernah diteliti secara sistematis pada reptil.
Dalam penelitiannya, tim menguji 17 ekor ular laut dari delapan spesies. Hasilnya, kemampuan mendeteksi cahaya lewat ekor tidak hanya dimiliki ular laut zaitun, tetapi juga dua spesies lain dalam genus Aipysurus: A. duboisii dan A. tenuis. Sementara itu, lima spesies lain dari genus Hydrophis tidak menunjukkan respons serupa. Pola ini mengindikasikan bahwa kemampuan tersebut berevolusi pada nenek moyang bersama dari enam spesies Aipysurus, atau sekitar 10 persen dari total spesies ular laut yang ada.
Secara biologis, kulit ekor ular ini mengandung sel peka cahaya yang tidak membentuk gambar, melainkan hanya berfungsi sebagai sensor sederhana. Melalui analisis transkriptom, peneliti menemukan gen melanopsin aktif di kulit ekorโgen yang umum berperan dalam kepekaan cahaya pada vertebrata, namun terpisah dari sistem penglihatan mata. Menariknya, jaringan kulit ekor sama sekali tidak mengandung gen opsin visual, yang biasanya digunakan mata untuk membentuk citra.
Ular laut zaitun adalah predator yang aktif berburu di celah-celah sempit terumbu karang. Saat terancam, ia memasukkan kepalanya ke dalam celah, namun tubuhnya yang panjang seringkali membuat ekor masih menjulur keluar. Karena mata sudah berada di dalam celah yang gelap, ular tidak bisa memantau bagian ekornya. Di sinilah fotoreseptor pada kulit ekor berperan sebagai sistem peringatan: selama ekor masih terkena cahaya, berarti bagian tubuh tersebut belum aman. Begitu cahaya terdeteksi, ular akan menarik ekornya lebih dalam hingga seluruh tubuh tersembunyi.
Untuk memastikan mekanisme ini, peneliti melakukan uji coba dengan menyinari ekor ular menggunakan lampu LED berbagai warna. Ular secara konsisten menarik ekornya menjauh dari sumber cahaya dalam hitungan detik, bahkan saat mata mereka ditutup. Sensitivitas tertinggi terjadi pada cahaya biru dan hijau dengan panjang gelombang 457โ514 nanometerโkisaran yang paling banyak menembus air laut. Meskipun demikian, peneliti tidak menemukan perbedaan signifikan dalam tingkat cedera ekor antara ular yang memiliki kemampuan ini dan yang tidak, sehingga manfaat evolusionernya lebih terkait dengan menghindari deteksi predator daripada mencegah luka fisik.
Crowe-Riddell dan timnya menegaskan bahwa temuan ini memperkaya pemahaman tentang keragaman sistem sensorik pada hewan laut, sekaligus membuktikan bahwa kemampuan mendeteksi cahaya tidak selalu terpusat di mata. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami bagaimana sinyal dari fotoreseptor di ekor diproses oleh sistem saraf ular laut zaitun. Bagi Indonesia, yang memiliki keanekaragaman hayati laut tinggi, temuan ini menjadi pengingat bahwa masih banyak misteri evolusi yang tersembunyi di terumbu karang Nusantara.



