Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Melonjak dan Bursa Asia Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah melesat lebih dari 4% menyusul serangan baru AS ke Iran yang mengancam stabilitas Selat Hormuz.
- Bursa saham Asia, khususnya Seoul, anjlok dipimpin saham teknologi seperti SK hynix yang ambles 10%.
- Ketegangan geopolitik dan kekhawatiran inflasi membuat investor beralih ke aset safe haven, sementara pasar menanti laporan laba perusahaan teknologi.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah gelombang serangan baru dilancarkan pada akhir pekan, mendorong harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Senin (13/7). Eskalasi ini tidak hanya mengancam gencatan senjata yang rapuh di kawasan Teluk, tetapi juga mengguncang pasar saham Asia yang mayoritas tertekan, dengan bursa Seoul memimpin pelemahan akibat aksi jual besar-besaran saham teknologi.
Serangan terbaru AS terjadi setelah insiden penembakan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz pada Minggu pagi, yang memaksa awak kapal meninggalkan kapal yang terbakar. Korps Garda Revolusi Iran segera mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut, sebuah langkah yang langsung dibantah oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) yang menyatakan selat tersebut tetap terbuka untuk pelayaran yang sah. Pasar bereaksi cepat: harga minyak Brent dan WTI melesat hingga 4,5%, memicu kembali kekhawatiran inflasi yang sudah tinggi akibat perang dan potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral.
Analis pasar, Fawad Razaqzada dari Forex.com, menilai situasi bisa memburuk dengan cepat. "Retorika memang bisa melunak, kita sudah melihatnya sebelumnya. Tapi untuk saat ini, trader terpaksa mengasumsikan skenario terburuk," ujarnya. Namun, analis IG Fabien Yip memperkirakan kenaikan harga minyak kali ini tidak akan setinggi lonjakan pasca pecahnya perang pada Maret lalu. Menurutnya, kembalinya harga minyak ke level sebelum perang pada Juni mencerminkan ekspektasi pasar terhadap hasil terbaik dari kesepakatan rapuh AS-Iran, dan eskalasi saat ini membuktikan betapa rapuhnya asumsi tersebut.
Di pasar saham Asia, indeks KOSPI Korea Selatan ambles lebih dari 5% karena saham teknologi tertekan oleh kekhawatiran valuasi yang terlalu tinggi dan keraguan atas investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI). Saham SK hynix, raksasa semikonduktor, merosot 10%, memperpanjang tren penjualan yang telah menghapus sepertiga nilainya. Saham Samsung juga terpangkas lebih dari 6%. Bursa Tokyo ikut melemah dengan saham Advantest dan Tokyo Electron turun lebih dari 1%. Sementara itu, bursa Shanghai, Singapura, Wellington, dan Jakarta kompak merah, namun Hong Kong, Taipei, dan Manila berhasil mencatatkan penguatan.
Bagi Indonesia, eskalasi ini menjadi sinyal waspada. Kenaikan harga minyak berpotensi membebani anggaran subsidi energi dan mendorong inflasi impor, sementara pelemahan bursa Asia bisa memicu arus keluar modal asing dari pasar saham domestik. Di sisi lain, penguatan dolar AS akibat aksi safe haven dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin menekan nilai tukar rupiah. Investor kini menanti laporan laba perusahaan teknologi besar seperti TSMC dan ASML pekan ini, serta laporan bank-bank Wall Street seperti JP Morgan, Bank of America, dan Goldman Sachs, yang akan menjadi barometer kesehatan sektor AI dan ekonomi global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran dapat dipulihkan, atau justru konflik akan semakin meluas dan mengganggu pasokan minyak global. Jika Selat Hormuz benar-benar tertutup, dampaknya bisa jauh lebih parah, tidak hanya bagi harga minyak tetapi juga stabilitas ekonomi dunia. Pasar sepertinya belum sepenuhnya memperhitungkan risiko terburuk, dan volatilitas diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.



