Konflik Iran-AS Memanas, Harga Minyak Melonjak 4,29% Dekati US$80
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak Brent melesat ke US$79,27 per barel setelah serangan Iran meluas ke Qatar dan UEA.
- Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz anjlok ke level terendah dalam lima pekan, hanya enam kapal melintas.
- Pergeseran pembeli China dari minyak Iran ke negara Teluk lain menekan permintaan minyak Teheran.

Harga minyak mentah dunia kembali meroket pada perdagangan Senin pagi, dipicu eskalasi terbaru antara Iran dan Amerika Serikat yang mengancam keamanan pasokan energi global. Brent kontrak September tercatat melonjak 4,29% ke US$79,27 per barel, nyaris menembus level psikologis US$80.
Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Iran memperluas serangan ke Qatar dan Uni Emirat Arab pada akhir pekan, sebagai respons atas serangan AS ke wilayahnya. Langkah ini langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap jalur distribusi minyak paling vital di dunia, Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menegaskan jalur tersebut tetap terbuka untuk lalu lintas komersial, namun pernyataan Iran sebelumnya yang mengklaim telah menutupnya membuat investor gamang.
Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan hanya enam kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Minggu, jumlah terendah dalam lima pekan terakhir. Penurunan drastis aktivitas pelayaran ini memperkuat persepsi risiko gangguan pasokan, meskipun analis menilai lonjakan harga belum separah saat puncak perang sebelumnya. Pasar masih melihat situasi sebagai eskalasi dalam gencatan senjata yang rapuh, bukan keruntuhan total kesepakatan damai.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak ini menjadi sinyal waspada. Sebagai importir minyak bersih, setiap kenaikan US$1 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi dan defisit neraca perdagangan. Pemerintah perlu mengantisipasi tekanan inflasi dan dampak pada anggaran, terutama jika konflik berkepanjangan mendorong harga bertahan di atas US$80.
Di sisi lain, dinamika pasar minyak juga dipengaruhi perubahan perilaku pembeli utama. Kilang-kilang independen di China, yang biasanya menjadi andalan ekspor Iran, mulai beralih ke minyak dari Irak, Qatar, dan UEA yang ditawarkan dengan diskon lebih besar. Kargo dari negara-negara Teluk itu dipasarkan dengan diskon US$5-US$8 per barel terhadap Brent, sementara diskon minyak Iran hanya US$2-US$3. Seorang pedagang senior menyebut minyak Iran kini menjadi yang paling mahal di kawasan, sehingga kehilangan daya saing.
Laporan International Energy Agency (IEA) yang dirilis Jumat lalu mencatat pasokan global meningkat 4,1 juta barel per hari setelah kesepakatan sementara AS-Iran pada Juni. Namun volume tersebut masih jauh dari level sebelum konflik. Dengan ketegangan yang kembali memanas, prospek pemulihan pasokan menjadi suram. Pertanyaannya, akankah eskalasi ini mendorong harga minyak menembus US$80 dan bertahan di level tersebut dalam waktu lama?



