IHSG Berbalik ke Zona Merah: Sentimen Global dan Data Makro Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- IHSG dibuka menguat 0,17% ke 5.934,72, namun berbalik melemah dalam hitungan menit di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah.
- Pekan ini, investor mencermati rilis data inflasi AS, laporan keuangan bank-bank besar Wall Street, serta potensi penutupan Selat Hormuz.
- Ekspektasi pertumbuhan laba S&P 500 kuartal II-2026 mencapai 23% YoY, dengan sektor teknologi dan AI menjadi fokus utama.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan penguatan awal dan justru terperosok ke zona merah pada Senin (13/7/2026), menandai awal pekan yang penuh ketidakpastian di tengah dominasi sentimen global yang masih dibayangi konflik geopolitik dan antisipasi data ekonomi kunci.
Pada pukul 09.00 WIB, IHSG sempat menanjak 10,36 poin atau 0,17% ke level 5.934,72, dengan 223 saham menguat dan nilai transaksi mencapai Rp 161,45 miliar. Namun, tekanan jual cepat muncul sehingga indeks berbalik arah. Kondisi ini mencerminkan kerentanan pasar domestik terhadap gejolak eksternal, terutama eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang mengancam stabilitas pasokan energi global.
Pelaku pasar kini memusatkan perhatian pada serangkaian rilis data makroekonomi pekan ini, termasuk inflasi konsumen dan produsen, neraca perdagangan, serta pertumbuhan ekonomi. Data-data tersebut akan menjadi indikator awal efektivitas kebijakan moneter bank sentral utama dan dampak konflik terhadap harga komoditas. Bagi investor Indonesia, hasilnya bisa memengaruhi aliran modal asing dan nilai tukar rupiah.
Di kawasan Asia-Pasifik, mayoritas bursa dibuka hijau. Nikkei 225 Jepang naik 0,28%, Kospi Korea Selatan bertambah 0,58%, dan Kosdaq melonjak 1,84%. Namun, S&P/ASX 200 Australia bergerak datar. Pendiri Fed Watch Advisors, Ben Emons, menilai bahwa selama belum ada prospek nyata penutupan Selat Hormuz dalam beberapa bulan ke depan, fokus investor akan beralih ke data inflasi AS dan musim laporan keuangan perbankan.
Musim laporan keuangan Wall Street menjadi sorotan utama pekan ini. Sebanyak 28 perusahaan anggota S&P 500, termasuk enam bank besar seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs, akan mengumumkan kinerja kuartal II-2026. Selain perbankan, Netflix, Johnson & Johnson, dan UnitedHealth juga masuk daftar. Chief Investment Officer Raymond James, Larry Adam, menyebut sektor teknologi sebagai pusat perhatian, khususnya terkait keberlanjutan dorongan kecerdasan buatan (AI) terhadap pertumbuhan laba. Meski ada kekhawatiran pengurangan belanja modal AI oleh perusahaan hyperscaler, Adam memperkirakan investasi AI tetap bertahan bahkan meningkat hingga 2028. Ia mencatat penyebutan AI dalam paparan perusahaan di seluruh 11 sektor industri naik 98% YoY dan mencapai rekor tertinggi.
Bagi investor Indonesia, data inflasi AS yang akan dirilis Selasa menjadi krusial. Jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, The Fed bisa mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan rupiah serta IHSG. Sebaliknya, sinyal pelonggaran moneter dapat memicu reli di pasar emerging market, termasuk Indonesia. Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pelaku pasar domestik disarankan mencermati pergerakan data makro dan laporan keuangan global sebagai penentu arah IHSG ke depan.



