Jakarta Fair 2026 Tutup dengan Transaksi Rp8,2 Triliun, Lampaui Target
Baca dalam 60 detik
- Jakarta Fair 2026 mencatatkan transaksi sebesar Rp8,2 triliun, melampaui target yang ditetapkan penyelenggara.
- Lebih dari 6,1 juta pengunjung hadir selama 32 hari penyelenggaraan, menunjukkan pemulihan ekonomi pasca-pandemi.
- Pencapaian ini menjadi indikator positif bagi sektor ritel dan UMKM di Indonesia, mendorong optimisme pelaku usaha.

Jakarta Fair 2026 resmi ditutup pada Minggu (12/7) setelah berlangsung selama 32 hari, dengan total transaksi mencapai Rp8,2 triliun. Angka ini melampaui target awal yang dipatok oleh penyelenggara, sekaligus menjadi rekor baru dalam sejarah pameran tahunan tersebut.
Pameran yang digelar di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran sejak 11 Juni lalu berhasil menarik lebih dari 6,1 juta pengunjung. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan edisi sebelumnya, mencerminkan antusiasme masyarakat yang kembali tinggi setelah masa pandemi. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Andhika Permata, menilai keberhasilan Jakarta Fair 2026 tidak lepas dari strategi promosi yang masif serta dukungan penuh dari pemerintah daerah.
Menurut Andhika, capaian transaksi Rp8,2 triliun menunjukkan daya beli masyarakat yang mulai pulih. "Ini menjadi sinyal positif bagi sektor usaha, terutama UMKM yang mendominasi peserta pameran," ujarnya dalam konferensi pers penutupan, Senin (13/7). Ia menambahkan bahwa gelaran tahun ini juga didukung oleh kemudahan akses transportasi umum dan integrasi dengan program belanja daring.
Dari sisi partisipasi, Jakarta Fair 2026 diikuti oleh lebih dari 2.500 tenant yang terdiri dari berbagai sektor, mulai dari otomotif, properti, makanan dan minuman, hingga fesyen. Para pelaku UMKM mendapatkan porsi khusus seluas 30% dari total area pameran, sejalan dengan program pemerintah dalam mendorong ekonomi kerakyatan. Ketua panitia Jakarta Fair, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa pihaknya sengaja memperbanyak tenant kuliner dan kreatif untuk menarik minat generasi muda.
Kesuksesan Jakarta Fair 2026 juga berdampak pada perekonomian Jakarta secara lebih luas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat hunian hotel di sekitar lokasi pameran meningkat hingga 85% selama periode tersebut. Sektor transportasi dan jasa akomodasi turut menikmati efek berganda dari gelaran ini. Ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, menilai bahwa pameran semacam ini efektif sebagai katalis pertumbuhan ekonomi daerah. "Event seperti Jakarta Fair tidak hanya mendongkrak transaksi langsung, tetapi juga menstimulasi sektor-sektor terkait," katanya.
Ke depan, penyelenggara berencana memperluas konsep Jakarta Fair dengan menggandeng lebih banyak investor asing dan menambah sesi temu bisnis. Pertanyaan yang muncul adalah apakah tren positif ini dapat berlanjut di tengah ketidakpastian ekonomi global? Pemerintah dan pelaku usaha optimistis, asalkan inovasi dan kolaborasi terus diperkuat.



