Asing Lepas Saham Rp1,73 Triliun dalam Sepekan, IHSG Tetap Hijau
Baca dalam 60 detik
- Investor asing mencatatkan penjualan bersih Rp1,73 triliun di seluruh pasar saham Indonesia pada pekan kedua Juli 2026.
- Meski asing net sell, IHSG mampu menguat 0,83% sepanjang pekan, ditutup di level 5.924,36 pada Jumat (10/7).
- Tekanan jual asing terfokus pada 10 saham tertentu, menjadi sinyal bagi investor ritel untuk mencermati pergerakan portofolio.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap mampu mempertahankan momentum positif meskipun investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp1,73 triliun sepanjang pekan lalu. Pada perdagangan Jumat (10/7/2026), IHSG ditutup menguat 0,20% ke level 5.924,36, memperpanjang tren hijau yang terjadi dalam empat dari lima hari perdagangan.
Data yang dihimpun dari Indo Premier menunjukkan bahwa total pembelian bersih asing di seluruh pasar mencapai Rp18,46 triliun, sementara penjualan bersihnya Rp20,19 triliun. Selisih negatif tersebut menghasilkan net sell Rp1,73 triliun, menandakan adanya tekanan jual yang cukup signifikan dari investor luar negeri pada pekan kedua Juli.
Fenomena ini menarik karena biasanya aksi jual asing dalam skala besar langsung menekan indeks. Namun, IHSG justru mampu menguat 0,83% secara mingguan. Hal ini mengindikasikan bahwa investor domestikโbaik institusi maupun ritelโmasih cukup agresif melakukan akumulasi, sehingga mampu menyerap tekanan jual asing.
Bagi investor Indonesia, aksi jual asing ini menjadi sinyal untuk mencermati saham-saham yang paling banyak dilepas. Indo Premier mencatat ada 10 saham dengan net foreign sell terbesar selama periode 6-10 Juli. Meski daftar lengkap saham tersebut belum dirilis secara detail dalam laporan ini, pola historis menunjukkan bahwa sektor perbankan, komoditas, dan consumer goods kerap menjadi sasaran jual asing saat terjadi koreksi global atau sentimen negatif.
Analis pasar menilai bahwa tekanan jual asing kali ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti ekspektasi kenaikan suku bunga acuan di negara maju dan ketidakpastian ekonomi global. Namun, fundamental ekonomi Indonesia yang relatif stabil dan pertumbuhan domestik yang solid dinilai masih mampu menjadi penyangga bagi pasar saham.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat tergantung pada konsistensi investor domestik dalam menyerap supply saham dari asing. Jika aksi jual berlanjut, bukan tidak mungkin indeks akan mengalami koreksi lebih dalam. Sebaliknya, jika sentimen global membaik dan asing kembali melakukan aksi beli, IHSG berpotensi menembus level resisten berikutnya. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah investor ritel Indonesia mampu mempertahankan optimisme di tengah derasnya arus jual asing?



