Sinner Bangkit dari Keterpurukan, Pertahankan Gelar Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Jannik Sinner sukses mempertahankan gelar juara Wimbledon setelah mengalahkan Alexander Zverev di final dengan skor 3-1.
- Perjalanan Sinner di turnamen ini diwarnai drama, termasuk nyaris tersingkir di babak pertama dan bangkit dari kekalahan telak di Prancis Terbuka.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Sinner di puncak tenis dunia dan memicu perbandingan dengan legenda seperti Novak Djokovic.

Jannik Sinner kembali membuktikan diri sebagai petenis nomor satu dunia yang tangguh setelah sukses mempertahankan gelar juara Wimbledon, Minggu (14/7). Dalam partai puncak yang berlangsung sengit selama 3 jam 46 menit, petenis Italia itu mengalahkan Alexander Zverev dengan skor 3-6, 6-3, 7-6, 6-3.
Kemenangan ini menjadi yang kelima kalinya bagi Sinner di turnamen Grand Slam, sekaligus menempatkannya sebagai petenis ke-10 di era Open yang mampu mempertahankan gelar Wimbledon. Namun, perjalanan Sinner menuju puncak tidaklah mulus. Ia nyaris menjadi juara bertahan pertama yang tersingkir di babak pertama setelah harus melewati lima set melawan Miomir Kecmanovic.
Momen kritis terjadi di awal final saat Sinner tertinggal satu set. Ia sempat jatuh saat mengejar bola, namun bangkit dan memaksa Zverev melakukan kesalahan untuk merebut break point pertama setelah hampir tiga jam pertandingan. Semangat pantang menyerah itulah yang menjadi ciri khas Sinner sepanjang turnamen.
โGelar ini sangat berarti karena setelah kekalahan di Paris, saya harus bangkit lagi,โ ujar Sinner usai pertandingan. โKami bekerja keras setiap hari, berkorban banyak untuk mencapai posisi ini.โ
Kegagalan di Prancis Terbuka menjadi titik balik bagi Sinner. Ia mengalami kekalahan mengejutkan di babak kedua setelah unggul dua set dan 5-1. Namun, seperti yang diakui pelatihnya, Darren Cahill, Sinner memiliki kemampuan luar biasa untuk bangkit dari keterpurukan. โAda beberapa pukulan telak dalam perjalanannya. Yang membuat kami bangga adalah cara dia bangkit kembali,โ kata Cahill.
Dominasi Sinner di ATP Tour musim ini sulit terbantahkan. Ia memenangkan 30 pertandingan beruntun antara Maret dan Mei, serta lima gelar Masters 1000 berturut-turut. Kekalahan di Prancis Terbuka menjadi satu-satunya noda di musim yang gemilang. Namun, Sinner membuktikan bahwa kegagalan justru menjadi motivasi.
Bagi pecinta tenis Indonesia, performa Sinner menjadi tontonan yang menginspirasi. Ketangguhan mentalnya mengingatkan pada petenis-petenis besar seperti Novak Djokovic. Mantan juara Wimbledon Marion Bartoli bahkan menyebut Sinner sebagai โDjokovic baru untuk 10-15 tahun ke depanโ.
Di sisi lain, Zverev yang baru saja meraih gelar Grand Slam pertamanya bulan lalu harus mengakui keunggulan Sinner. Ia kini telah kalah dalam 10 pertemuan terakhir melawan petenis Italia tersebut. Meski demikian, Zverev dipastikan akan naik ke peringkat dua dunia menggantikan Carlos Alcaraz yang cedera.
Pertanyaan selanjutnya adalah mampukah Sinner mempertahankan dominasinya dalam jangka panjang? Atau akankah rivalitas dengan Alcaraz yang sempat memanas kembali tersaji setelah pemain Spanyol itu pulih? Wimbledon tahun ini telah memberikan jawaban sementara: Sinner adalah raja baru lapangan rumput.



