Jannik Sinner: Gelar Wimbledon Lebih Manis Usai Kegagalan di Prancis Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Petenis Italia Jannik Sinner sukses mempertahankan gelar Wimbledon setelah menaklukkan Alexander Zverev di final.
- Kemenangan ini menjadi penebus atas kegagalan di Prancis Terbuka bulan lalu, di mana ia tersingkir di babak kedua.
- Sinner memilih latihan intensif di Monaco ketimbang turnamen pemanasan rumput tradisional untuk mempersiapkan diri.

Jannik Sinner mempertahankan mahkota Wimbledon-nya dengan kemenangan dramatis atas Alexander Zverev, Minggu (12/7) waktu setempat, dan mengaku gelar kali ini terasa lebih istimewa setelah kegagalan mengecewakan di Prancis Terbuka sebulan sebelumnya.
Petenis berusia 24 tahun itu tiba di All England Club dengan tekanan besar setelah tersingkir di babak kedua Roland Garros oleh petenis tak terkenal Juan Manuel Cerundolo. Kekalahan di Paris itu memicu keraguan publik terhadap kemampuannya di lapangan rumput, apalagi ia memutuskan melewatkan seluruh turnamen pemanasan rumput tradisional.
Alih-alih mengikuti turnamen persiapan, Sinner memilih menjalani blok latihan intensif di Monaco yang mencakup sesi di lapangan keras. Strategi itu perlahan membuahkan hasil saat ia menemukan ritme permainan terbaiknya dan akhirnya mengalahkan Zverev 6-7(7), 7-6(2), 6-3, 6-4 dalam pertarungan sengit selama 3 jam 46 menit di Centre Court.
โSetiap Grand Slam berbeda. Cerita, lingkungan, dan perasaan sebelum turnamen tidak pernah sama,โ ujar Sinner dalam konferensi pers usai pertandingan. โYang ini sangat berarti karena berat setelah Paris. Tahun lalu juga berat. Tapi saya datang ke sini dengan mencoba menempatkan diri dalam posisi terbaik untuk bersaing.โ
Petenis Italia itu mengaku telah mengorbankan banyak waktu dan tenaga demi mencapai puncak performa. โKami bekerja sangat keras di Monaco, berhari-hari panjang. Saya mengorbankan banyak waktu pribadi. Mencapai prestasi ini sangat berarti bagi saya,โ tambahnya.
Meski tampil dominan sepanjang musim, Sinner menegaskan tidak ada rasa lega berlebihan setelah mengalahkan Zverev. โTerkadang Anda menjalani turnamen dengan hasil bagus, terkadang tidak. Tidak ada yang namanya kegagalan jika Anda tidak memenangi Grand Slam. Saya punya lima sekarang, tapi itu hanya lima hari dari sekian banyak hari lainnya. Anda hanya ingin menikmatinya,โ katanya.
Sinner juga memuji perkembangan permainan Zverev yang dinilainya semakin matang. โItulah yang bagus, karena selalu ada seseorang yang mendorong Anda ke batas kemampuan. Kami berharap Carlos Alcaraz segera pulih dari cedera, karena tenis membutuhkannya. Novak Djokovic masih ada, pemain muda bermunculan. Ini sangat baik untuk olahraga ini,โ ujarnya.
Bagi penggemar tenis Indonesia, keberhasilan Sinner mempertahankan gelar Wimbledon menjadi pengingat bahwa kerja keras dan strategi nonkonvensional bisa membuahkan hasil. Sementara petenis Tanah Air masih berjuang menembus level elite dunia, konsistensi Sinner di turnamen Grand Slam bisa menjadi inspirasi. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan dominasi di US Open mendatang?



