Tabrakan Maut di Pantura Indramayu: 13 Tewas, Rombongan Pengantin Jadi Korban
Baca dalam 60 detik
- Kecelakaan antara pikap dan truk tronton di Jalur Pantura Indramayu merenggut 13 nyawa, mayoritas warga satu desa.
- Korban baru saja mengantar rombongan pengantin; pengemudi pikap termasuk yang meninggal.
- Polisi masih menyelidiki penyebab pasti, dugaan awal manuver mendadak pikap saat putar balik.

Kecelakaan maut di Jalur Pantura Indramayu, Minggu (12/7) malam, menewaskan 13 orang setelah sebuah mobil pikap yang membawa belasan penumpang bertabrakan dengan truk tronton. Peristiwa nahas itu terjadi di Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, sekitar pukul 20.30 WIB, saat rombongan baru pulang dari acara pernikahan.
Kasat Lantas Polres Indramayu, AKP Undang Syarif Hidayat, mengonfirmasi jumlah korban jiwa bertambah setelah enam orang meninggal di Rumah Sakit Bhayangkara Losarang dan empat lainnya di Rumah Sakit Mitra Plumbon Widasari. Tiga korban sebelumnya sudah dinyatakan tewas di tempat kejadian. "Total 13 orang meninggal dunia," ujarnya, Minggu malam.
Delapan dari 13 korban merupakan warga Blok Cemeti, Desa Cempeh, Kecamatan Lelea, Indramayu. Ketua RT setempat, Rawid, membenarkan bahwa sebagian besar warganya menjadi korban. "Betul, delapan orang itu warga kami. Mereka baru pulang mengantar pengantin dari Desa Parean, Kandanghaur," katanya. Sopir pikap, Warsidi, juga termasuk dalam daftar korban tewas. Tiga korban lainnya berasal dari Blok Telukan, Desa Kiajaran Kulon.
Kronologi kecelakaan bermula saat pikap bernomor polisi E 8559 RB yang dikemudikan Warsidi hendak memutar balik di putaran Kiajaran Kulon. Dari arah yang sama, truk tronton bernomor polisi B 9260 TEV yang dikendarai Deden Ibad melaju dan tak sempat menghindar. Benturan keras membuat belasan penumpang pikap terpental ke aspal. Tiga orang langsung tewas, sementara lainnya mengalami luka berat, terutama di bagian kepala, dan mengembuskan napas terakhir dalam perjalanan ke rumah sakit atau saat dirawat.
Sopir truk, Deden Ibad, mengakui kendaraannya menabrak pikap. Ia mengatakan mobil di depannya berhenti mendadak saat hendak berbelok ke kanan. "Saya tidak tega melihat kondisi korban yang berjatuhan di jalan. Kondisi mobil di depan saya itu mendadak berhenti saat akan manuver belok ke arah kanan," ujarnya. Polisi masih mendalami penyebab pasti kecelakaan, termasuk kemungkinan human error atau faktor teknis kendaraan.
Peristiwa ini kembali menyoroti tingginya angka kecelakaan di Jalur Pantura, yang dikenal rawan karena padatnya arus kendaraan dan minimnya penerangan. Sepanjang 2025, data Korlantas Polri mencatat lebih dari 200 kecelakaan fatal di jalur tersebut. Masyarakat diimbau lebih berhati-hati, terutama saat melintas di malam hari atau di titik rawan seperti tikungan dan putaran.
Hingga berita ini diturunkan, korban luka masih menjalani perawatan intensif di dua rumah sakit. Pihak keluarga korban berdatangan ke RS Bhayangkara Losarang untuk mengidentifikasi jenazah. Pertanyaan besar kini mengemuka: akankah peristiwa ini mendorong perbaikan infrastruktur dan penegakan aturan lalu lintas di Pantura, atau justru menjadi catatan kelam yang terulang kembali?



