Pangeran George dan Charlotte Saksikan Langsung Kejayaan Sinner di Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Keluarga kerajaan Inggris, termasuk Pangeran George dan Putri Charlotte, hadir di final Wimbledon untuk menyaksikan Jannik Sinner mengalahkan Alexander Zverev.
- Kate Middleton, sebagai pelindung All England Club, menyerahkan trofi kepada Sinner dan menyebut prestasinya menginspirasi anak-anak.
- Kehadiran para bangsawan dan selebritas di Royal Box menegaskan status Wimbledon sebagai ajang olahraga sekaligus sosial bergengsi global.

Pangeran William dan Kate Middleton, bersama dua anak sulung mereka, Pangeran George dan Putri Charlotte, menjadi pusat perhatian di final Wimbledon, Minggu (13/7). Mereka duduk di Royal Box yang juga dipenuhi deretan tokoh internasional, mulai dari aktor Hollywood hingga pemimpin negara. Kehadiran keluarga kerajaan itu bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk dukungan nyata terhadap dunia tenis yang selama ini lekat dengan citra Inggris.
Kate, yang menjabat sebagai pelindung All England Club, memiliki tugas istimewa: menyerahkan trofi juara kepada Jannik Sinner setelah petenis Italia itu menaklukkan Alexander Zverev. Ini bukan pertama kalinya Kate tampil dalam peran tersebut—sehari sebelumnya ia juga memberikan trofi kepada juara putri, Linda Noskova, meski saat itu tanpa didampingi keluarga. Namun, kehadiran George dan Charlotte di final putra menambah bobot simbolis acara tersebut.
Menurut pengakuan Sinner, momen paling berkesan bukan hanya saat menerima piala, melainkan percakapan santai dengan keluarga kerajaan di ruang dalam stadion utama. “Mereka benar-benar mencintai olahraga ini. Itulah yang kami rasakan sebagai pemain ketika melihat mereka menonton tenis,” ujar Sinner. Ia juga terkesan dengan daya tahan keluarga kerajaan yang duduk selama empat jam di bawah terik matahari. “Luar biasa,” katanya.
Pangeran George, yang tahun lalu juga hadir di final yang sama, mengaku bermain tenis di akhir pekan meski tidak setiap hari. Percakapan itu menunjukkan kedekatan keluarga kerajaan dengan olahraga yang kerap disebut “olahraga raja” tersebut. Kate sendiri menyebut pencapaian Sinner sebagai “fantastis” dan menginspirasi anak-anak untuk melihat tenis level tertinggi.
Di luar keluarga kerajaan, Royal Box juga menjadi ajang pertemuan para elite global. Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Menteri Olahraga Italia Andrea Abodi duduk berdampingan dengan aktor Dustin Hoffman, Nicole Kidman, dan Ben Stiller. Kehadiran para pemimpin politik ini menandai Wimbledon sebagai panggung diplomasi lunak yang efektif. Sementara itu, legenda tenis seperti Stefan Edberg, Lleyton Hewitt, dan Stan Smith turut memeriahkan suasana.
Bagi publik Indonesia, kemeriahan Wimbledon mungkin terasa jauh, namun ada pelajaran berharga tentang bagaimana olahraga bisa menjadi jembatan budaya dan diplomasi. Kehadiran tokoh politik di ajang olahraga bukan hal baru, tetapi di Indonesia momen serupa masih jarang terjadi secara konsisten. Wimbledon menunjukkan bahwa olahraga bukan hanya soal kompetisi, melainkan juga etiket, tradisi, dan jaringan kekuasaan.
Dengan kemenangan ini, Sinner mengukuhkan dominasinya di lapangan rumput setelah tahun lalu mengalahkan Carlos Alcaraz. Pertanyaannya, mampukah ia mempertahankan gelar tahun depan di tengah persaingan yang semakin ketat? Atau akankah Alcaraz bangkit kembali? Yang jelas, Wimbledon 2026 telah mencatatkan satu lagi babak manis dalam sejarah panjang tenis Inggris.



