Final World Cup di Depan Mata: Prancis Siap Balas Dendam ke Spanyol
Baca dalam 60 detik
- Prancis berpeluang menjadi negara pertama sejak Brasil (1994-2002) yang tampil di tiga final Piala Dunia beruntun jika menaklukkan Spanyol.
- Spanyol, yang hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen, menjadi ujian terberat bagi lini serang Prancis yang digdaya dengan duet Mbappé-Dembele.
- Pertandingan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi pelatih Didier Deschamps yang sukses meregenerasi tim tanpa kehilangan identitas juara.

Prancis hanya berjarak satu kemenangan lagi untuk menorehkan sejarah baru di pentas Piala Dunia. Jika mampu mengalahkan Spanyol pada laga semifinal, Selasa (12/7) waktu setempat, Les Bleus akan melaju ke final ketiga secara beruntun dan kelima kalinya dalam delapan edisi terakhir—sebuah dominasi yang belum pernah terjadi sejak era Brasil di awal milenium.
Namun, lawan yang menghadang bukanlah sembarang tim. Spanyol telah dua kali berturut-turut mengalahkan Prancis di turnamen besar: pada semifinal Euro 2024 dan laga sengit Nations League tahun lalu. Kini, dengan skuad yang lebih seimbang dan dua pencetak gol terbanyak turnamen—Kylian Mbappé (8 gol) dan Ousmane Dembélé (5 gol)—Prancis datang dengan kepercayaan diri yang berbeda.
Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, mengakui kekuatan lawannya. “Kami satu-satunya tim yang mengalahkan mereka dua kali beruntun, tapi laga ketiga ini akan sangat berbeda,” ujarnya usai kemenangan atas Belgia. “Dua tim level tertinggi akan saling berhadapan.”
Perbandingan dengan pertemuan dua tahun lalu di Munich cukup menarik. Saat itu, Prancis unggul lebih dulu lewat sundulan Randal Kolo Muani, namun Spanyol membalikkan keadaan melalui gol Lamine Yamal dan Dani Olmo. Kini, Yamal kembali menjadi ancaman setelah pulih dari cedera hamstring. Namun, Prancis datang dengan fondasi yang jauh lebih kokoh. Jika di Euro 2024 mereka masih mencari ritme permainan—Mbappé terganggu patah hidung, Griezmann kesulitan—kali ini lini serang Prancis lebih variatif: Michael Olise menjadi pengatur serangan, sementara Bradley Barcola dan Désiré Doué memberikan opsi eksplosif dari bangku cadangan.
Fleksibilitas taktik menjadi senjata utama Prancis. Mereka bisa menyerang cepat, memperlambat tempo, atau bertahan rapat tanpa kehilangan ketenangan, seperti terlihat saat mengalahkan Maroko 2-0 di perempat final. Sebaliknya, Spanyol mengandalkan penguasaan bola untuk menekan lawan dan melindungi pertahanan. Catatan hanya kebobolan satu gol menunjukkan betapa sulitnya menembus pertahanan La Roja.
Namun, Belgia sempat menunjukkan celah: saat lawan mampu melewati tekanan awal dan menyerang ruang di belakang lini tengah, Spanyol bisa goyah. Prancis, dengan kecepatan Mbappé dan kemampuan Dembélé melebar, diyakini lebih siap mengeksploitasi kelemahan itu. Olise, yang kerap bergerak ke dalam untuk berkolaborasi dengan gelandang sebelum melesatkan serangan, menjadi kunci penghubung.
Keputusan pelatih Didier Deschamps menjadi krusial: apakah akan memperkuat lini tengah atau tetap setia pada formasi menyerang yang membuat Prancis ditakuti. Jika memainkan empat pemain depan, Spanyol akan semakin tertekan, namun risiko terbuka saat pressing ditembus juga meningkat.
Bagi Indonesia, laga ini menyajikan tontonan kelas dunia yang bisa menjadi referensi pengembangan sepak bola nasional. Dominasi Prancis yang dibangun melalui regenerasi tanpa kehilangan identitas—dari soliditas bertahan di 2018, ketergantungan pada Mbappé di 2022, hingga kedalaman skuad saat ini—memberi pelajaran tentang pentingnya perencanaan jangka panjang. Sementara Spanyol menunjukkan bahwa filosofi permainan yang konsisten bisa bertahan meski pemain berganti.
Pertanyaan besarnya: akankah sejarah berpihak pada Prancis yang sedang dalam puncak kepercayaan diri, atau Spanyol kembali menjadi batu sandungan? Satu hal pasti, laga di Dallas ini akan menentukan siapa yang layak melaju ke final dan menuliskan babak baru dalam persaingan dua raksasa Eropa.



