FIFA Buka Peluang Piala Dunia 64 Tim, Infantino: Setelah 2026 Baru Dibahas
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino mengisyaratkan kemungkinan ekspansi Piala Dunia menjadi 64 tim, namun keputusan baru akan diambil setelah edisi 2026 rampung.
- Turnamen 48 tim yang kini berlangsung di AS, Kanada, dan Meksiko dinilai sukses oleh Infantino, dengan peningkatan kualitas dan partisipasi dari berbagai benua.
- FIFA memproyeksikan pendapatan 13-14 miliar franc Swiss dari Piala Dunia 2026, sementara kebijakan kontroversial seperti jeda hidrasi dan harga tiket mahal tetap dipertahankan.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, membuka pintu bagi kemungkinan perluasan Piala Dunia menjadi 64 peserta, namun menegaskan bahwa diskusi serius baru akan dilakukan setelah turnamen edisi 2026 yang tengah berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko rampung. Pernyataan ini disampaikan Infantino dalam wawancara dengan stasiun televisi Swiss, Blue Sport, tanpa memberikan rincian lebih lanjut mengenai mekanisme atau jadwal implementasi.
Edisi tahun ini menjadi yang pertama dengan format 48 tim, menggantikan sistem 32 tim yang telah digunakan sejak 1998. Meskipun sempat menuai kritik tajam saat diumumkan, pelaksanaan turnamen sejak 11 Juni lalu relatif berjalan tanpa perdebatan berarti. Infantino menilai format baru ini sebagai keberhasilan, dengan mencatat bahwa setiap tim dari berbagai benua mampu mencetak gol dan meraih setidaknya satu poin. โSembilan dari sepuluh tim Afrika lolos ke fase gugur. Pada Piala Dunia sebelumnya, hanya ada lima tim dari Afrika. Ini menunjukkan betapa pentingnya memberi kesempatan bagi semua negara,โ ujarnya.
Infantino juga menekankan visinya bahwa Piala Dunia harus menjadi ajang global yang inklusif, bukan hanya milik Eropa dan Amerika Selatan. โSetiap negara harus bermimpi untuk berpartisipasi. Jika negara-negara kecil tidak diberi kesempatan, mereka akan kehilangan motivasi untuk terus berkembang,โ tambahnya. Langkah ini sejalan dengan rencana FIFA yang telah menetapkan tuan rumah Piala Dunia 2030 di Maroko, Portugal, dan Spanyol, serta edisi 2034 di Arab Saudi.
Di tengah euforia ekspansi, sejumlah kebijakan kontroversial tetap menjadi sorotan. Salah satunya adalah jeda hidrasi (cooling break) yang diterapkan pada setiap babak, yang oleh banyak pihak dianggap sebagai celah untuk menambah slot iklan televisi. Infantino membela kebijakan ini dengan merujuk pada pengalaman Piala Dunia Antarklub 2025 di AS, di mana jeda serupa diterapkan pada 60% pertandingan saat suhu tinggi. โBanyak keluhan karena tim menginginkan kondisi yang seragam. Tapi ini adalah topik yang memicu perdebatan, dan kami tidak ingin semuanya sempurna,โ katanya bercanda.
Soal harga tiket yang dinilai mahal, Infantino menepis kritik dengan menunjukkan data okupansi stadion yang nyaris penuh. Ia mengklaim bahwa harga tiket telah ditentukan oleh para ahli sebelum turnamen, dan bukti keberhasilannya terlihat dari maraknya penjualan tiket di pasar sekunder dengan harga empat hingga lima kali lipat dari harga asli. โStadion penuh, kapasitas terpakai 99,7% dan akan mencapai 99,9%. Itu bukti bahwa harga sudah tepat,โ tegasnya.
Bagi Indonesia, wacana ekspansi Piala Dunia menjadi 64 tim membuka peluang sekaligus tantangan. Timnas Indonesia yang tengah berjuang meningkatkan peringkat FIFA bisa mendapatkan kesempatan lebih besar untuk lolos ke putaran final jika kuota Asia bertambah. Namun, di sisi lain, format yang semakin besar berpotensi menurunkan kualitas pertandingan dan memperlebar kesenjangan antara tim unggulan dan non-unggulan. Pengamat sepak bola Indonesia menilai bahwa FIFA perlu menyeimbangkan aspek inklusivitas dengan daya saing agar turnamen tetap menarik.
Ke depan, keputusan final mengenai ekspansi 64 tim akan sangat bergantung pada evaluasi menyeluruh Piala Dunia 2026. Infantino sendiri mengakui bahwa masih banyak isu yang perlu dikaji, termasuk dampak terhadap jadwal, logistik, dan kualitas permainan. Pertanyaan besarnya: apakah sepak bola global siap menerima Piala Dunia yang semakin besar, atau justru akan kehilangan esensi kompetisinya?



