Banjir dan Longsor Bangladesh Tewaskan 50 Orang, 35.000 Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Hujan monsun memicu banjir bandang dan tanah longsor di Bangladesh, menewaskan sedikitnya 50 orang dalam sepekan terakhir.
- Sebanyak 35.000 warga mengungsi di pusat-pusat penampungan pemerintah, sementara pasukan dikerahkan untuk distribusi logistik.
- Ilmuwan mengaitkan peningkatan frekuensi cuaca ekstrem ini dengan perubahan iklim, yang juga mengancam negara-negara rawan banjir seperti Indonesia.

Bencana musim hujan di Bangladesh kembali memakan korban jiwa. Setidaknya 50 orang tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tenggara negara itu dalam sepekan terakhir, sementara puluhan ribu lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Komisioner Divisi Chattogram, Mohammed Ziauddin, mengonfirmasi bahwa 29 dari total korban tewas akibat tertimbun longsor. Dua orang lainnya masih dinyatakan hilang. Lebih dari 35.000 warga kini mengungsi di sekitar 4.000 tempat penampungan yang disediakan pemerintah, menurut keterangan resmi yang diterima AFP.
Personel angkatan darat dan penjaga perbatasan dikerahkan untuk mendistribusikan makanan, air minum, dan kebutuhan pokok lainnya menggunakan perahu ke komunitas-komunitas yang terisolasi akibat banjir. Krisis kian diperparah oleh kelangkaan pangan dan air bersih di wilayah terdampak.
Di tengah kepanikan, kisah pilu datang dari keluarga Mohammed Forkan, warga Chattogram. Jenazah pamannya tidak bisa dimakamkan di pemakaman keluarga karena lokasinya terendam air setinggi dada. "Kami menaruh jenazah paman di atas rakit bambu dan berenang di sampingnya mencari tanah yang tidak terendam," kata keponakannya, Nizam Uddin, kepada AFP. Akhirnya mereka memakamkannya di tanah milik pemerintah dengan upacara sederhana.
Bencana ini tidak hanya melanda permukiman umum. Pekan lalu, hujan deras juga memicu longsor di kamp-kamp pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, menewaskan 15 orang. Sekitar 1,2 juta pengungsi tinggal di tempat penampungan padat di lereng bukit yang gundulโkondisi yang membuat tanah rentan longsor saat musim hujan.
Bangladesh, negara delta dataran rendah yang dilintasi banyak sungai, memang sangat rentan terhadap banjir dan longsor setiap musim hujan. Namun, para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem. Hal ini menjadi pengingat bagi Indonesia, yang juga memiliki risiko tinggi terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor, terutama di daerah padat penduduk dan lahan kritis.
Sarder Udoy Raihan dari Pusat Prakiraan dan Peringatan Banjir Bangladesh menyatakan situasi di wilayah tenggara diperkirakan membaik dalam waktu dekat. "Namun, monsun masih aktif di bagian timur laut dan utara Bangladesh, dan ada kemungkinan banjir lebih lanjut," ujarnya. Pertanyaannya, seberapa siap negara-negara rawan bencara seperti Bangladesh dan Indonesia menghadapi ancaman yang kian memburuk akibat perubahan iklim?



