Declan Rice Terbaring di Ranjang Tiga Hari Sebelum Bawa Inggris ke Semifinal Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Gelandang Arsenal, Declan Rice, mengalami sakit parah dan nyaris absen saat Inggris mengalahkan Norwegia 2-1 di perempat final Piala Dunia 2026.
- Pelatih Thomas Tuchel mengakui Rice hanya mampu bertahan 45 menit karena kondisi fisiknya menurun drastis akibat penyakit dan cedera saraf.
- Kemenangan dramatis berkat gol Jude Bellingham mempertemukan Inggris dengan Argentina di semifinal, laga yang dinanti publik sepak bola dunia.

Gelandang andalan Inggris, Declan Rice, nyaris melewatkan laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Norwegia setelah menghabiskan hampir tiga hari terbaring di ranjang karena sakit. Pelatih Thomas Tuchel mengungkapkan kondisi tersebut usai timnya menang dramatis 2-1 di Miami Stadium, Minggu (12/7) waktu setempat.
Rice, yang menjadi pilar di lini tengah Three Lions, tetap diturunkan sebagai starter meski dalam kondisi tidak prima. Namun, ia tampak kesulitan mengimbangi tempo pertandingan di bawah suhu panas Miami yang menyengat. Tuchel akhirnya menariknya keluar saat jeda babak pertama dan menggantikannya dengan Eberechi Eze, rekan setim Rice di Arsenal.
“Kami punya beberapa pemain yang kesulitan dengan panas. Ezri Konsa kram, dan Declan… kami memutuskan di babak pertama untuk bermain lebih ofensif,” ujar Tuchel. “Saya tahu dia tidak akan mampu bertahan 90 menit, apalagi jika laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Jadi saya lebih baik menariknya lebih awal demi menghemat pergantian pemain.”
Kondisi Rice menjadi sorotan karena ia merupakan salah satu pemain paling konsisten di skuad Inggris. Sejak awal turnamen, ia telah menjadi starter di lima dari enam pertandingan, hanya absen saat melawan Panama di fase grup. Tuchel mengakui bahwa keputusan menarik Rice bukan semata karena performa, melainkan demi menjaga kebugaran jangka panjang tim.
“Kami harus memilih antara Elliott Anderson atau Declan. Mengetahui Declan bergelut dengan sakit selama tiga hari terakhir, saya sadar dia tidak bisa bermain penuh. Ada kemungkinan laga berjalan 120 menit, jadi saya tidak ingin menyia-nyiakan satu pergantian,” tambah pelatih asal Jerman itu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga Inggris vs Argentina di semifinal menjadi tontonan yang dinanti. Kedua tim memiliki sejarah rivalitas panjang, termasuk insiden ‘Hand of God’ Diego Maradona dan tendangan penalti David Beckham yang terkenal. Kini, dengan Lionel Messi yang masih menjadi ancaman, duel ini diprediksi berlangsung sengit. Pertandingan akan digelar pada Rabu, 15 Juli pukul 20.00 waktu setempat dan disiarkan langsung oleh BBC.
“Kami seharusnya bisa bermain lebih baik, tapi yang terpenting adalah lolos. Sekarang kami harus fokus menghadapi Argentina,” ujar Tuchel, yang sebelumnya sempat menyebut timnya ‘beruntung’ dalam kemenangan tersebut. Namun, Bellingham membela rekan-rekannya dengan mengatakan bahwa semangat juang tim patut diapresiasi.
Laga semifinal ini juga menjadi ujian bagi ketahanan fisik Inggris. Dengan kondisi pemain yang belum pulih sepenuhnya, Tuchel harus pintar mengatur rotasi. Sementara itu, Argentina datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah Messi tampil impresif. Pertanyaannya, akankah Inggris mampu mengulangi sukses 1966 atau justru kembali patah hati di tangan Argentina?



