Bunga Kredit Super Mikro Mekaar Dipangkas ke 8%, Prabowo: Bankir Minta Tak Turun Terlalu Dalam
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mengumumkan penurunan bunga kredit super mikro Mekaar dari 22% menjadi 8% pada peringatan Hari Koperasi ke-79.
- Penurunan ini tidak sesuai target awal 5% karena tekanan dari perbankan yang khawatir margin pendapatan menipis.
- Kebijakan ini menjadi bagian dari pengembangan Koperasi Merah Putih yang akan menyediakan layanan terpadu di desa, termasuk apotek murah dan cold storage.

Presiden Prabowo Subianto secara resmi memangkas suku bunga kredit super mikro program Mekaar (Membina Keluarga Ekonomi Sejahtera) dari 22 persen menjadi 8 persen. Keputusan ini diumumkan dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 tahun 2026, Minggu (12/7/2026), sebagai langkah strategis memperkuat sektor koperasi dan akses pembiayaan rakyat.
Dalam pidatonya, Prabowo mengungkapkan bahwa target awal penurunan bunga adalah hingga 5 persen. Namun, para bankir yang terlibat dalam program tersebut meminta agar penurunan tidak sedalam itu karena akan membuat pendapatan mereka terlalu tipis. "Oke 8%. Tapi dibandingkan 22%, lumayan 8%," ujar Prabowo, menegaskan kompromi yang diambil.
Penurunan bunga kredit Mekaar ini menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha mikro di pedesaan yang selama ini terbebani biaya pinjaman tinggi. Dengan suku bunga 8%, debitur Mekaar bisa menghemat beban bunga hingga lebih dari setengahnya, meningkatkan daya beli dan potensi ekspansi usaha. Namun, di sisi lain, langkah ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan margin perbankan yang menyalurkan kredit tersebut.
Lebih dari sekadar penyesuaian bunga, Prabowo juga merinci rencana pengembangan Koperasi Merah Putih (KMP) sebagai pusat pelayanan ekonomi desa yang terintegrasi. KMP akan menyediakan berbagai layanan, mulai dari kantor koperasi, toko sembako, simpan pinjam, logistik, hingga apotek. Menurut Prabowo, apotek di koperasi akan menjual obat dengan harga lebih murah dibandingkan apotek di kota, membantu menekan biaya kesehatan warga desa. Selain itu, koperasi akan dilengkapi dengan cold storage atau ruang pendingin untuk menjaga hasil pertanian agar tidak rusak.
Bagi Indonesia, langkah ini memiliki implikasi luas. Sektor koperasi selama ini menjadi tulang punggung ekonomi pedesaan, namun kerap terkendala akses modal dan infrastruktur. Dengan integrasi layanan dan penurunan bunga kredit, diharapkan koperasi bisa menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang lebih mandiri. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal pengawasan dan tata kelola agar dana yang disalurkan tepat sasaran dan tidak menimbulkan moral hazard.
Ke depan, efektivitas kebijakan ini akan sangat bergantung pada implementasi di lapangan. Apakah koperasi desa mampu mengelola cold storage dan apotek dengan baik? Akankah bankir tetap bersedia menyalurkan kredit dengan margin tipis? Pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah penurunan bunga Mekaar benar-benar membawa perubahan nyata bagi ekonomi rakyat atau hanya sekadar angka di atas kertas.



