Paolo Maldini Resmi Pimpin Revolusi Timnas Italia: Wewenang Tak Terbatas hingga 2030
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini ditunjuk sebagai direktur teknis FIGC dengan kontrak empat tahun, didampingi Leonardo sebagai penasihat.
- Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi total setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 dan mundurnya sejumlah petinggi.
- Maldini dipercaya memiliki wewenang luas untuk membenahi seluruh sektor pembinaan, dari tim senior hingga kelompok usia muda.

Paolo Maldini resmi mengemban amanah sebagai direktur teknis Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dengan kontrak hingga 2030, menandai babak baru dalam upaya membangkitkan kembali kejayaan Gli Azzurri yang empat kali juara dunia namun gagal tampil di tiga edisi Piala Dunia terakhir.
Penunjukan legenda AC Milan dan timnas Italia itu diumumkan langsung oleh Presiden FIGC Giovanni Malagรฒ, yang baru terpilih pada Juni lalu menggantikan Gabriele Gravina. Gravina mundur setelah Italia kembali absen di Piala Dunia 2026, disusul pelatih Gennaro Gattuso dan delegasi tim Gianluigi Buffon. Kekacauan internal itu mendorong Malagรฒ bergerak cepat merekrut figur kuat untuk memimpin transformasi total.
Maldini tidak bekerja sendirian. Ia akan didampingi mantan rekan setimnya di Milan, Leonardo, yang berperan sebagai penasihat. Malagรฒ menyebut keduanya "dua sisi mata uang yang sama" dan mengaku telah membahas proyek secara detail selama dua pekan terakhir. "Maldini selalu menjadi target saya. Saya yakin dia orang yang tepat untuk mengawasi sektor teknis FIGC, bukan hanya tim senior tetapi seluruh rantai pasokan tim nasional muda," ujar Malagรฒ dalam pernyataan resmi.
Bagi pengamat sepak bola Italia, langkah ini merupakan pengakuan bahwa kegagalan beruntun โ absen di Piala Dunia 2018, 2022, dan 2026 โ bukan sekadar masalah pelatih, melainkan kegagalan sistemik dalam pembinaan pemain. Maldini, yang sebelumnya menjabat direktur teknik di Milan, dianggap memiliki rekam jejak dalam mengelola transisi generasi. Namun, tantangan di level nasional jauh lebih kompleks karena ia harus menyelaraskan kepentingan klub-klub Serie A yang kerap enggan melepas pemain muda ke tim nasional.
Konteks ini relevan bagi Indonesia, yang tengah giat membenahi sistem pembinaan usia muda melalui program Garuda Select dan kerja sama dengan federasi asing. Pelajaran dari Italia menunjukkan bahwa kegagalan regenerasi bisa berakibat fatal โ bahkan bagi negara dengan tradisi sepak bola sekelas Italia. FIGC kini meniru model federasi seperti Jerman dan Prancis yang sukses membangun "pabrik pemain" terintegrasi. Maldini diharapkan mampu memotong birokrasi dan mempercepat lahirnya bakat baru.
Langkah selanjutnya yang paling dinanti adalah penunjukan pelatih kepala. Nama Roberto Mancini kembali mencuat setelah sebelumnya menangani timnas Italia pada 2018โ2023 dan membawa pulang trofi Euro 2020. Antonio Conte, yang kini melatih Napoli, juga disebut-sebut tetapi dianggap kurang cocok karena pendekatannya yang intensif dan kontrak jangka panjang. Keputusan ini akan menjadi ujian pertama bagi Maldini dalam menentukan arah permainan Italia ke depan.
Dengan kontrak hingga 2030, Maldini memiliki waktu untuk membangun fondasi. Namun, publik Italia tentu tidak sabar menanti hasil nyata โ setidaknya lolos ke Piala Dunia 2030 yang akan digelar di tiga negara. Pertanyaannya, mampukah Maldini mengulang suksesnya sebagai pemain di kursi direktur teknis?



