Filipina Pimpin ASEAN: Hadapi Krisis Tanpa Melupakan Visi Jangka Panjang
Baca dalam 60 detik
- Filipina, sebagai ketua ASEAN saat ini, menekankan pentingnya respons cepat terhadap krisis geopolitik tanpa mengabaikan agenda strategis regional.
- Keketuaan Manila berfokus pada tiga prioritas mendesak: ketahanan energi, stabilitas pangan, dan perlindungan warga negara ASEAN.
- Visi jangka panjang ASEAN 2045 dan integrasi Timor Leste tetap menjadi agenda utama di tengah ketidakpastian global.

Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat dan ketidakpastian global, Filipina menegaskan bahwa ASEAN harus mampu menjawab tantangan yang dihadapi masyarakatnya tanpa melupakan prioritas jangka panjang yang membentuk masa depan kawasan. Pernyataan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Filipina Ma. Theresa P. Lazaro dalam wawancara tertulis dengan Bernama, menandai posisi Manila sebagai ketua ASEAN saat ini.
Menurut Lazaro, pendekatan Filipina terhadap keketuaan ASEAN dilakukan dengan kejelasan dan fokus strategis, yang menuntut responsivitas sekaligus kontinuitas. “ASEAN harus segera mengatasi tantangan yang dihadapi masyarakat kita, sambil terus memajukan prioritas jangka panjang yang membentuk masa depan kawasan. Inilah yang kami targetkan dan terus lakukan sebagai ketua,” ujarnya.
Bagi Filipina, menjaga fokus strategis ASEAN berarti memastikan setiap respons terhadap krisis justru memperkuat ketahanan kolektif kelompok regional ini, mempertegas sentralitas ASEAN, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Lazaro mencontohkan KTT ASEAN ke-48 dan pertemuan terkait pada Mei lalu, di mana para pemimpin membahas dampak konflik Asia Barat yang sedang berlangsung, termasuk gangguan pada jalur transportasi laut dan udara, ancaman terhadap pasokan energi dan pangan, tekanan ekonomi yang meningkat, serta keselamatan warga ASEAN.
Diskusi tersebut berpusat pada tiga prioritas mendesak: memastikan ketahanan dan keamanan energi regional, menstabilkan ketahanan pangan, dan melindungi warga negara ASEAN. “Diskusi ini menegaskan kembali pentingnya sentralitas ASEAN, solidaritas, dan kerja sama praktis dalam merespons guncangan eksternal,” kata Lazaro, seraya menambahkan bahwa ASEAN menekankan penggunaan dan perluasan mekanisme serta kerangka kerja yang sudah ada, yang rencana aksinya biasanya melampaui satu masa keketuaan.
Di sisi lain, Lazaro menegaskan bahwa ASEAN tidak melupakan prioritas utama keketuaan Filipina, yaitu Pilar Perdamaian dan Keamanan, Koridor Kemakmuran, dan Pemberdayaan Masyarakat, dengan 13 prioritas strategis di bawah kerangka LEAD, SAIL, RISE ASEAN. “Pekerjaan ASEAN terus berlanjut di semua tingkatan dan di seluruh pilar, mulai dari kerja sama politik-keamanan, integrasi ekonomi, dan konektivitas, hingga perlindungan sosial, ketahanan iklim, dan pembangunan yang berpusat pada rakyat,” jelasnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai salah satu pendiri ASEAN, Indonesia berkepentingan untuk memastikan bahwa sentralitas ASEAN tetap terjaga di tengah persaingan kekuatan besar. Fokus Filipina pada ketahanan energi dan pangan juga relevan dengan kepentingan nasional Indonesia, yang tengah mendorong transisi energi dan ketahanan pangan. Selain itu, dukungan terhadap integrasi Timor Leste sejalan dengan posisi Indonesia yang telah menjadi sponsor utama keanggotaan Timor Leste di ASEAN.
Lazaro menambahkan bahwa peralihan kepemimpinan regional dari Kuala Lumpur ke Manila dipandang sebagai sebuah kontinuitas, di mana setiap ketua membangun pekerjaan pendahulunya sambil berkontribusi pada prioritas bersama dan visi jangka panjang blok ini. Filipina akan melanjutkan fokus ASEAN pada inklusivitas dan keberlanjutan, memulai implementasi ASEAN 2045: Our Shared Future—peta jalan dua dekade ke depan—serta melanjutkan upaya pembangunan Komunitas ASEAN, termasuk mendukung integrasi Timor Leste.
Dengan tema keketuaan “Navigating Our Future, Together”, Filipina berupaya menerjemahkannya ke dalam kerja sama praktis yang berpusat pada rakyat di tengah ketidakpastian geopolitik yang meningkat. “Tema ini bukan sekadar frasa yang menarik, tetapi sebuah mandat yang harus kami kejar untuk masyarakat kami,” tegas Lazaro. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah sejauh mana ASEAN mampu menjaga keseimbangan antara respons taktis terhadap krisis dan pencapaian visi strategisnya di tengah dinamika global yang semakin kompleks.



