Topan Bavi Hantam China, 2,8 Juta Jiwa Dievakuasi
Baca dalam 60 detik
- Topan Bavi, badai terkuat tahun ini di China, memaksa evakuasi massal di Zhejiang dan provinsi lain.
- Kerusakan parah terjadi di pesisir timur, dengan ribuan pohon tumbang dan banjir melumpuhkan transportasi.
- Ancaman cuaca ekstrem masih berlanjut seiring prediksi El Nino yang memperkuat siklon tropis.

Topan Bavi menerjang pesisir timur China akhir pekan lalu, memicu evakuasi lebih dari 2,8 juta jiwa dan menguji kesiapsiagaan negara tersebut menghadapi cuaca ekstrem. Badai yang mendarat di Zhejiang pada Sabtu malam (11/7) itu membawa angin kencang dan hujan deras yang melumpuhkan transportasi serta merusak infrastruktur di sejumlah kota padat penduduk.
Meski telah melemah menjadi badai tropis saat bergerak ke daratan, pusat meteorologi China memperingatkan bahwa sistem sebesar Perancis ini masih berpotensi memicu hujan berkepanjangan di wilayah timur dan utara. Provinsi Zhejiang, yang menjadi pusat manufaktur dan teknologi, mencatat lebih dari 2,2 juta pengungsiโterbanyak dalam satu dekade terakhir. Belum ada laporan korban jiwa, namun kerusakan material dilaporkan signifikan.
Di kota Yueqing, lebih dari 1.300 pohon tumbang dan 700 di antaranya tercabut hingga akar. Banjir setinggi setengah ban mobil merendam jalan-jalan utama. Tim penyelamat menggunakan ekskavator dan gergaji mesin untuk membersihkan puing-puing. Sementara itu, di Kanmen, seorang pemilik toko berusia 72 tahun, Lin Yongjin, mengaku mengalami kerugian lebih dari 6.000 yuan (sekitar Rp13 juta) akibat atap tokonya runtuh diterjang angin.
Dampak Bavi juga terasa di Taiwan, di mana 134 orang terluka akibat terjatuh dari sepeda motor atau tertimpa benda. Hujan mencapai 80 cm di Miaoli, memicu longsor dan banjir bandang. Sebanyak 137 penerbangan internasional dan 62 penerbangan domestik dibatalkan. Di China, dua stasiun kereta utama di Hangzhou menghentikan operasi, sementara Bandara Xiaoshan membatalkan 327 penerbangan. Shanghai mencatat pembatalan 1.620 perjalanan kereta dan 684 penerbangan.
Benjamin Horton, dekan Sekolah Energi dan Lingkungan di City University of Hong Kong, menjelaskan bahwa meskipun topan melemah setelah mendarat, sirkulasinya yang besar masih mampu menghasilkan cuaca destruktif hingga ratusan kilometer ke pedalaman. Ia menambahkan bahwa intensifikasi cepat topan mengurangi waktu persiapan bagi masyarakat dan manajer darurat, membuat peristiwa ini semakin menantang.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa kemunculan pola El Nino tahun ini dapat memicu lebih banyak cuaca ekstrem di China, termasuk pergeseran jalur topan ke arah barat. Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi badai tropis yang semakin tidak terduga. Akankah infrastruktur dan respons bencana di kawasan mampu mengimbangi ancaman yang kian intensif?



