Bellingham Bukan Sekadar Bintang: Gelandang Muda Ini Mengubah Wajah Inggris di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Jude Bellingham mencetak dua gol krusial saat Inggris membalikkan ketertinggalan 0-1 menjadi 2-1 atas Norwegia di perempat final Piala Dunia 2026.
- Pemain berusia 23 tahun itu kini sejajar dengan Gary Lineker sebagai pencetak gol non-penalty terbanyak Inggris di satu turnamen besar, menunjukkan dominasi seorang gelandang.
- Performa Bellingham menegaskan perannya sebagai motor permainan Inggris, menggeser fokus dari Harry Kane sebagai andalan utama tim.

Jude Bellingham kembali membuktikan dirinya bukan sekadar pemain berbakat, melainkan sosok yang mampu mengubah momentum pertandingan. Dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Norwegia di Miami Stadium, Minggu dini hari WIB, gelandang Real Madrid itu menjadi aktor utama di balik kemenangan dramatis Inggris 2-1 setelah babak perpanjangan waktu.
Bellingham mencetak dua gol, termasuk penyama kedudukan di masa injury time babak pertama dan gol kemenangan di babak perpanjangan waktu. Penampilannya membuat pelatih Thomas Tuchel hanya berkata, "Sudah cukup," saat ditanya soal performa sang pemain. "Dia melakukannya di setiap pertandingan. Kelas dunia," tambah Tuchel.
Inggris sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Andreas Schjelderup yang kontroversialโentah itu tembakan atau umpan silang. Pada babak pertama, skuad asuhan Tuchel tampil tumpul, dengan Harry Kane nyaris tidak mendapat suplai bola. Namun, Bellingham mengubah segalanya saat ia menerima umpan dari Anthony Gordon, menusuk ke kotak penalti, dan melepaskan tembakan akurat dari sudut sempit untuk menyamakan kedudukan.
Ketika pertandingan memasuki babak perpanjangan waktu dan para pemain mulai kelelahan akibat suhu panas di Miami, Bellingham kembali menunjukkan naluri tajamnya. Ia menjadi pemain pertama yang menyambar bola rebound setelah tembakan Morgan Rogers ditepis kiper Norwegia, dengan mudah mengalahkan bek lawan untuk membuat skor 2-1. Gol tersebut tidak hanya memastikan kemenangan, tetapi juga mengukuhkan posisinya sebagai pencetak gol terbanyak Inggris bersama Kane di turnamen ini.
Yang membedakan Bellingham dari gelandang-gelandang Inggris sebelumnya adalah kemampuannya untuk tampil di momen-momen krusial. Ia tidak hanya menjadi pengatur serangan, tetapi juga penyelesai akhir. Sepanjang 111 menit ia berada di lapangan, Bellingham terus menekan pertahanan Norwegia, bahkan saat Kane mulai kelelahan. Ia terlihat memberi instruksi kepada rekan setimnya untuk menutup ruang gerak lawan, menunjukkan jiwa kepemimpinan yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Bagi Indonesia, performa Bellingham menjadi pengingat betapa pentingnya memiliki pemain yang tidak hanya andal secara teknis, tetapi juga mentalitas baja. Di tengah maraknya pemain muda Indonesia yang mulai merambah liga Eropa, sosok seperti Bellingham bisa menjadi tolok ukur bagaimana seorang gelandang modern harus mampu berkontribusi di kedua kotak penalti. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dan klub-klub lokal tentu bisa mengambil pelajaran dari pengembangan pemain ala Real Madrid yang mampu mencetak pemain sekaliber Bellingham.
Dengan kemenangan ini, Inggris melaju ke semifinal dan akan menghadapi pemenang laga antara Brasil dan Portugal. Pertanyaan besarnya: bisakah Bellingham mempertahankan performa luar biasanya hingga partai puncak? Jika ia terus tampil seperti ini, bukan tidak mungkin Inggris akhirnya mengakhiri puasa gelar Piala Dunia sejak 1966.



