Selat Hormuz Mulai Longgar: Hanya Empat Kapal Jepang Tersisa di Kawasan
Baca dalam 60 detik
- Menteri Perhubungan Jepang mengumumkan hanya empat dari 45 kapal terkait Jepang masih berada di Teluk Persia setelah blokade Selat Hormuz mereda.
- Sebanyak 22 kapal berhasil melintasi selat tersebut pada 7-9 Juli, termasuk enam kapal tanker minyak besar yang membawa 1,8 juta kiloliter minyak ke Jepang.
- Situasi ini berdampak pada rantai pasok energi global dan menjadi perhatian bagi Indonesia sebagai importir minyak yang juga bergantung pada jalur tersebut.

Ketegangan di kawasan Teluk Persia mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran setelah hanya empat dari 45 kapal berbendera atau terkait Jepang yang masih berada di perairan tersebut. Menteri Perhubungan Jepang, Yasushi Kaneko, mengonfirmasi bahwa sebagian besar kapal telah berhasil meninggalkan zona rawan konflik, termasuk enam kapal tanker raksasa yang membawa pasokan minyak mentah untuk Negeri Sakura.
Dalam konferensi pers di Tokyo, Kaneko mengungkapkan bahwa 22 kapal Jepang telah melintasi Selat Hormuz antara 7 hingga 9 Juli tanpa insiden kesehatan berarti di antara awak kapal. Dari jumlah tersebut, enam kapal tanker besar mengangkut sekitar 1,8 juta kiloliter minyak mentah yang diperkirakan akan tiba di Jepang dalam 20 hari ke depan, atau sebelum akhir Juli 2026. Langkah ini menjadi sinyal bahwa tekanan di jalur pelayaran strategis tersebut mulai berkurang setelah sempat terblokade secara efektif.
Pelonggaran ini tidak terlepas dari dinamika geopolitik yang memanas di kawasan tersebut. Sejak beberapa pekan terakhir, ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat meningkat, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% minyak dunia, sehingga setiap gangguan di titik ini langsung berimbas pada harga minyak dan stabilitas ekonomi global.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara pengimpor minyak mentah, Indonesia sangat bergantung pada kelancaran jalur pelayaran di Timur Tengah. Meski tidak memiliki kapal sebanyak Jepang, setiap gangguan di Selat Hormuz berpotensi menaikkan harga BBM di dalam negeri dan mengganggu pasokan industri. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral perlu mencermati situasi ini sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional.
Para analis memperkirakan bahwa meskipun situasi mulai mereda, risiko masih tetap ada. โKeberhasilan 22 kapal melintas adalah kabar baik, tetapi belum sepenuhnya menghilangkan ancaman,โ ujar seorang pengamat maritim dari Universitas Tokyo. โJika ketegangan kembali meningkat, Jepang dan negara lain harus menyiapkan jalur alternatif atau meningkatkan stok cadangan.โ
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah tren pelonggaran ini akan bertahan atau hanya bersifat sementara. Dengan masih adanya empat kapal Jepang yang bertahan di Teluk Persia, dunia akan terus memantau setiap perkembangan di kawasan yang rawan konflik tersebut. Bagi Indonesia, langkah antisipatif seperti diversifikasi sumber impor minyak dan penguatan cadangan strategis menjadi semakin mendesak.



