Apple Gugat OpenAI atas Dugaan Pencurian Rahasia Dagang untuk Kembangkan Perangkat Keras
Baca dalam 60 detik
- Apple resmi menggugat OpenAI di pengadilan federal California, menuding perusahaan AI itu secara sistematis mencuri rahasia dagang untuk membangun perangkat keras konsumen.
- Gugatan menyebut OpenAI merekrut karyawan Apple dan meminta mereka membawa komponen fisik, serta menyebut sekitar 400 mantan staf Apple kini bekerja di OpenAI.
- Kasus ini berpotensi menghambat rencana IPO OpenAI yang bernilai lebih dari US$852 miliar dan memperkeruh hubungan kedua perusahaan yang sempat bermitra pada 2024.

Apple menggugat OpenAI di pengadilan federal San Jose, California, Jumat (10/7), dengan tuduhan bahwa perusahaan kecerdasan buatan itu menjalankan kampanye sistematis untuk mencuri rahasia dagang guna mengembangkan perangkat keras konsumennya sendiri. Langkah hukum ini menjadi eskalasi dramatis dari ketegangan yang sudah memburuk antara dua raksasa teknologi yang sebelumnya bermitra pada 2024 untuk mengintegrasikan ChatGPT ke dalam produk Apple.
Dalam gugatan setebal 41 halaman, Apple menuding OpenAI mencuri informasi rahasia di semua level organisasi, mulai dari staf teknis hingga kepala perangkat keras. "Signifikan bukti telah muncul yang menunjukkan individu yang dipekerjakan OpenAI secara salah mengambil informasi rahasia dan konfidensial Apple mengenai teknologi, proses, dan produk kami yang belum dirilis," demikian pernyataan Apple kepada AFP. Perusahaan yang berbasis di Cupertino itu menuntut ganti rugi dan meminta pengadilan mengeluarkan perintah yang melarang OpenAI menggunakan informasi tersebut.
Gugatan ini menyebut OpenAI, anak perusahaan perangkat kerasnya io Productsโyang didirikan bersama mantan kepala desain Apple Jony Iveโserta dua mantan karyawan Apple: Tang Yew Tan, kini kepala perangkat keras OpenAI, dan insinyur Chang Liu. Tan menghabiskan 24 tahun di Apple, terakhir sebagai wakil presiden desain produk untuk iPhone dan Apple Watch, sebelum mendirikan io Products yang diakuisisi OpenAI senilai sekitar US$6,5 miliar pada 2025. Menurut pengaduan, Tan menggunakan nama kode proyek rahasia Apple selama wawancara kerja OpenAI untuk menggali informasi tentang produk Apple yang belum dirilis. Ia bahkan diduga meminta karyawan Apple membawa komponen fisik seperti baterai, papan sirkuit, dan bagian lain ke sesi wawancara untuk "peragaan".
Gugatan ini secara signifikan mempersulit rencana OpenAI untuk melaksanakan penawaran umum perdana (IPO) yang telah lama dinanti. Perusahaan bernilai sekitar US$852 miliar itu telah mengumpulkan lebih dari US$180 miliar dari investor, dan ekspansi ke perangkat keras konsumen dipandang sebagai peluang pertumbuhan besar. Apple menggambarkan temuannya sebagai "puncak gunung es" dan menyatakan visibilitas terbatas terhadap apa yang terjadi di balik pintu tertutup OpenAI. "Bisnis perangkat keras OpenAI yang baru lahir kini berdiri di atas fondasi paling goyah, busuk hingga ke intinya karena ketergantungan ilegal pada rahasia dagang yang disalahgunakan," demikian bunyi pengaduan.
Hubungan kedua perusahaan yang sempat harmonis mulai memburuk setelah Bloomberg melaporkan pada Mei lalu bahwa OpenAI sendiri mempertimbangkan tindakan hukum terhadap Apple, dengan tuduhan bahwa raksasa teknologi itu gagal mempromosikan integrasi ChatGPT secara memadai. Kini, Apple justru melangkah lebih dulu dengan gugatan ini. OpenAI membantah tuduhan tersebut melalui pernyataan email kepada AFP. "Kami tidak memiliki kepentingan terhadap rahasia dagang perusahaan lain. Kami tetap fokus membangun teknologi inovatif yang memberdayakan orang di mana pun," kata juru bicara OpenAI.
Bagi Indonesia, perseteruan ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan kekayaan intelektual di era persaingan AI global. Dengan banyaknya perusahaan rintisan AI lokal yang mulai bermitra dengan pemain global, kasus ini menyoroti risiko kebocoran rahasia dagang dan mobilitas tenaga kerja antarperusahaan. Regulator Indonesia dapat mengambil pelajaran untuk memperkuat pengawasan terhadap praktik rekrutmen dan perlindungan data perusahaan, terutama di sektor teknologi yang sedang tumbuh pesat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah gugatan ini akan mendorong OpenAI untuk menunda IPO atau justru mempercepat restrukturisasi bisnis perangkat kerasnya. Dengan bukti yang disebut Apple baru "puncak gunung es", publik menanti apakah akan ada lebih banyak pengungkapan yang mengguncang industri AI.



