Barisan Nasional Kunci Kemenangan Telak di Johor: Mandat Rakyat atau Strategi Politik?
Baca dalam 60 detik
- Koalisi Barisan Nasional memenangi 48 dari 56 kursi DPRD Johor, memperkuat dominasi di negara bagian tersebut.
- Tingkat partisipasi pemilih melonjak hingga 67% dibanding 54% pada 2022, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pemilu awal.
- Pengamat menilai kemenangan ini lebih karena konsolidasi kekuatan Barisan dan fragmentasi oposisi, bukan kebangkitan penuh Umno.

Barisan Nasional (BN) berhasil mempertahankan kendali atas Johor dengan kemenangan telak dalam pemilihan negara bagian, merebut 48 dari 56 kursi DPRD. Hasil ini tidak hanya memperkuat posisi koalisi pimpinan Umno, tetapi juga mengirim sinyal kuat tentang dinamika politik di Malaysia selatan.
Pakatan Harapan (PH) hanya mampu mengamankan delapan kursi sisanya, dengan DAP meraih enam, serta PKR dan Amanah masing-masing satu kursi. Kemenangan ini menandai dominasi BN yang semakin kokoh di Johor, negara bagian yang selama ini menjadi basis kekuatan tradisional koalisi tersebut.
Menteri Besar Johor, Datuk Onn Hafiz Ghazi, yang juga menjabat sebagai pelaksana tugas, berhasil mempertahankan kursi Machap dengan mayoritas gemilang 15.375 suara. Keberhasilannya disebut-sebut sebagai faktor utama di balik gelombang dukungan terhadap BN, yang oleh banyak pengamat dijuluki "Onn Hafiz wave".
Perikatan Nasional (PN) mengalami kemunduran signifikan. PAS kehilangan kursi Maharani, sementara Ketua Bersatu Johor dan mantan menteri besar, Datuk Dr Sahruddin Jamal, dikalahkan di Bukit Kepong. Muda juga gagal mempertahankan satu-satunya kursi yang dimiliki, Puteri Wangsa, dan kalah di tiga daerah pemilihan lain. DAP, bagian dari PH, hanya menang di enam dari 17 kursi yang ditargetkan.
Pengamat politik menilai kemenangan BN ini tidak lepas dari keputusan strategis menggelar pemilu lebih awal. Dr Azmi Hassan, peneliti senior di Nusantara Academy for Strategic Research, mengatakan hasil pemilu membenarkan langkah tersebut. "Johor adalah tempat kekuatan BN berada," ujarnya. Azmi juga menyoroti perpecahan di kubu oposisi, termasuk imbauan PAS kepada pendukungnya untuk mendukung BN di kursi yang tidak diikuti PN.
Namun, analis dari Universiti Sains Malaysia, Datuk Dr Sivamurugan Pandian, memberikan catatan hati-hati. Menurutnya, kemenangan besar BN mencerminkan kinerja Onn Hafiz sebagai menteri besar, mesin partai yang mapan, dan perpecahan oposisi. "Jika pendukung PAS secara taktis beralih ke BN di daerah tertentu, itu menunjukkan pemungutan suara strategis, bukan pergeseran ideologis," jelasnya. Ia menambahkan, akan lebih akurat menyebut ini sebagai konsolidasi keunggulan BN daripada kebangkitan penuh Umno.
Bagi Indonesia, dinamika politik di Johor menarik dicermati mengingat kedekatan geografis dan hubungan bilateral yang erat. Stabilitas politik di Malaysia selatan berdampak pada investasi dan perdagangan lintas batas, khususnya di sektor manufaktur dan pariwisata. Kemenangan BN yang solid dapat memberikan kepastian kebijakan bagi investor Indonesia yang beroperasi di Johor.
Meski demikian, Sivamurugan mengingatkan bahwa satu pemilu belum cukup untuk menyimpulkan gelombang hijau telah berakhir. "Johor secara tradisional menunjukkan perilaku pemilih yang berbeda dari negara bagian utara. Kinerja kuat BN menunjukkan gelombang hijau terkendali di Johor, bukan hilang sama sekali," pungkasnya. Pertanyaan besarnya: akankah tren ini bertahan pada pemilu nasional mendatang?



