Iran Tutup Selat Hormuz, Kapal Tak Berizin Kena Serang
Baca dalam 60 detik
- Korps Garda Revolusi Iran menutup Selat Hormuz setelah sebuah kapal yang melanggar rute resmi dihentikan paksa.
- AS melancarkan serangan udara ketiga terhadap Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal kontainer M/V GFS Galaxy.
- Negosiasi yang melibatkan Iran, AS, Qatar, dan Pakistan belum membuahkan hasil, sementara Oman terus memediasi.

Iran secara resmi menutup Selat Hormuz pada Minggu (12/7) setelah sebuah kapal yang berlayar tanpa izin terkena serangan dan dihentikan paksa oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Langkah ini memicu ketegangan baru di jalur pelayaran tersibuk dunia, yang sebelumnya menjadi titik rawan konflik antara Teheran dan Washington.
Dalam pernyataan resminya, Angkatan Laut IRGC menyebutkan bahwa beberapa kapal mencoba melintasi selat melalui rute yang tidak sah dan mengabaikan peringatan untuk mengubah haluan. "Sebuah kapal yang membahayakan keamanan maritim dengan mematikan sistemnya terkena serangan dan dihentikan," demikian bunyi pernyataan tersebut, tanpa memberikan detail lebih lanjut mengenai kapal yang dimaksud. IRGC menegaskan bahwa selat akan ditutup "sampai pemberitahuan lebih lanjut" dan hingga "berakhirnya campur tangan AS di kawasan ini".
Menanggapi insiden tersebut, militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara tahap ketiga terhadap Iran pekan ini. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan itu merupakan respons atas "serangan terang-terangan" IRGC terhadap kapal kontainer berbendera Siprus, M/V GFS Galaxy, yang tengah melintasi Selat Hormuz. "Amerika Serikat terus memberikan tekanan berat dengan menurunkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi selat," ujar CENTCOM, seraya menambahkan bahwa operasi ini dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump.
Diplomasi pun masih berlangsung di tengah eskalasi ini. Seorang sumber senior Iran mengungkapkan kepada Reuters bahwa Iran, AS, Qatar, dan Pakistan telah sepakat untuk bernegosiasi melalui panggilan telepon yang diupayakan mediator pada Sabtu lalu, saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi berada di Oman. Namun, belum jelas apakah upaya tersebut membuahkan hasil. Araqchi dan Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi bertemu untuk bertukar pandangan mengenai "mekanisme yang tepat untuk pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz". Kantor berita Oman kemudian melaporkan bahwa negosiasi akan dilanjutkan di tingkat teknis dan politik.
Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz memiliki dampak langsung terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi. Sebagai negara pengimpor minyak, lonjakan harga minyak dunia akibat blokade ini berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dan memicu inflasi. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi gejolak pasar dengan memperkuat cadangan strategis dan diversifikasi sumber energi. Selain itu, konflik ini juga mengancam keamanan jalur pelayaran yang dilalui kapal-kapal niaga Indonesia, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan internasional.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah negosiasi yang dimediasi Oman mampu meredakan ketegangan atau justru memicu konfrontasi yang lebih luas. Dengan AS yang terus melancarkan serangan dan Iran yang menutup selat tanpa batas waktu, risiko gangguan pasokan energi global masih tinggi. Dunia menanti langkah selanjutnya dari kedua kubu, sementara harga minyak diperkirakan akan terus bergejolak.



