Serangan Rusia Tewaskan 8 Orang, Zelenskyy Desak Pasokan Senjata Lebih Cepat
Baca dalam 60 detik
- Rusia melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah kota Ukraina pada Sabtu, menewaskan delapan orang dan melukai puluhan lainnya.
- Presiden Zelenskyy menuntut perubahan pendekatan diplomatik agar pengiriman senjata dari mitra Barat dipercepat, termasuk lisensi produksi rudal Patriot.
- Ukraina terus menekan logistik militer Rusia di Laut Azov dengan menghancurkan puluhan kapal bahan bakar dalam sepekan terakhir.

Serangan rudal dan drone Rusia kembali menghantam Ukraina pada Sabtu (11/7), menewaskan delapan warga sipil dan melukai puluhan lainnya di sejumlah kota. Di tengah gempuran yang kian intensif, Presiden Volodymyr Zelenskyy mendesak mitra internasional untuk mempercepat pengiriman senjata, terutama sistem pertahanan udara yang sangat dibutuhkan Kyiv.
Dua bom luncur (glide bomb) menghantam kawasan padat penduduk di Sumy, kota di utara Ukraina yang kerap menjadi sasaran. Akibat serangan itu, lima orang tewas dan 30 lainnya luka-luka. Foto-foto yang beredar menunjukkan sebuah bus kuning dengan sisi tubuhnya robek, serta kerusakan pada fasad bangunan apartemen. Di wilayah perbatasan Sumy, seorang pria tewas akibat menginjak alat peledak, seperti diungkapkan pejabat setempat.
Di kota Zaporizhzhia, tenggara Ukraina, bom luncur juga melukai 10 orang. Sementara itu, dua orang tewas dan satu terluka akibat serangan rudal di Odesa, kota pelabuhan di selatan. Sebelumnya, pada malam hari, Kyiv menjadi sasaran serangan gabungan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone yang melukai 12 orang. Angkatan Udara Ukraina melaporkan Rusia meluncurkan enam rudal balistik, enam rudal jelajah, dan 121 drone dalam serangan semalam. Sebanyak dua rudal jelajah dan 111 drone berhasil ditembak jatuh, namun rudal balistik sulit dihadang.
Dalam pidato video malamnya, Zelenskyy menekankan perlunya perubahan pendekatan diplomatik. โSaya sedang mempersiapkan perubahan dalam upaya diplomatik Ukraina. Kami membutuhkan tingkat kerja sama baru dengan mitra untuk memastikan kesepakatan pasokan senjata dipenuhi,โ ujarnya. Ia mencontohkan kesepakatan dengan Presiden AS Donald Trump pekan ini yang memberikan lisensi kepada Ukraina untuk memproduksi rudal pencegat Patriot sendiri. Namun, realisasi kesepakatan semacam itu dinilai terlalu lambat.
Kekritisan amunisi Patriot membuat Ukraina rentan terhadap rudal balistik Rusia yang melaju dengan kecepatan beberapa kali lipat suara. Kyiv telah memohon pasokan tambahan dari sekutu dan mendorong Eropa untuk bekerja sama mengembangkan sistem pertahanan anti-balistik buatan sendiri. Sementara itu, di Kharkiv timur, serangan drone melukai tujuh orang di sebuah perusahaan sipil. Di wilayah Donetsk yang dikuasai Rusia, satu orang tewas dan sembilan luka akibat serangan drone terhadap mobil dan bus.
Di sisi lain, Ukraina terus meningkatkan tekanan terhadap logistik militer Rusia di wilayah selatan yang diduduki. Komandan pasukan drone Ukraina, Robert Brovdi, mengklaim unitnya telah menghantam 21 kapal tanker bahan bakar di Laut Azov dalam semalam, serta tujuh kapal kargo dan pendukung lainnya. Total kapal yang dihantam dalam sepekan mencapai 76 unit. Zelenskyy menyatakan tujuan kampanye drone ini adalah untuk memaksa Rusia duduk di meja perundingan, meskipun Presiden Vladimir Putin belum menunjukkan tanda-tanda melunak. Otoritas Rusia melaporkan satu orang tewas dalam serangan drone terhadap empat kapal, termasuk kapal tanker metanol, di Teluk Taganrog.
Dengan eskalasi yang terus berlanjut, pertanyaan kuncinya adalah seberapa cepat sekutu Barat dapat memenuhi kebutuhan pertahanan udara Ukraina sebelum serangan rudal balistik Rusia menimbulkan lebih banyak korban jiwa. Sementara itu, kemampuan Ukraina untuk mengganggu rantai pasok Rusia di Laut Azov menunjukkan bahwa perang ini tidak hanya dimenangkan di garis depan, tetapi juga melalui perang logistik yang tak kalah sengit.



